BPKW XIV usung tradisi iftar lokal jadi warisan tak benda UNESCO

1 hour ago 1
...Semangat kekeluargaan yang tecermin dari padatnya undangan berbuka puasa bersama hingga empat kali sehari ini membuktikan bahwa iftar adalah perekat keberagaman warga di Kaltim

Samarinda (ANTARA) - Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah (BPKW) XIV Kalimantan Timur dan Utara mengusung tradisi berbuka puasa atau iftar berbasis kearifan lokal untuk didaftarkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda pada UNESCO.

"Langkah kementerian ini bertujuan untuk memperluas pendaftaran agar tradisi buka puasa di Indonesia juga terdaftar di dunia, menyusul usulan serupa dari negara Iran," kata Kepala BPKW XIV Kaltimtara Titit Lestari saat dialog budaya bertajuk Iftar dalam Perspektif Budaya Masyarakat Adat Kalimantan Timur di Samarinda, Jumat.

Dalam dialog yang melibatkan tiga puluh tiga entitas dan tokoh kebudayaan setempat, Titit menyoroti keberagaman unik daerah, mulai dari kebiasaan membangunkan sahur menggunakan sirine di Sumatera Barat hingga gema azan di Kalimantan.

Upaya pelestarian ini juga menginventarisasi kekayaan kuliner khas penunjang iftar yang sarat makna sejarah, seperti bubur peca, kue talam, penganan jenderal mabok, hingga sajian manis amparan tatak.

Titit Lestari mengamati betapa kuatnya antusiasme masyarakat Kalimantan Timur dalam merawat budaya kolektif ini, yang terbukti dari sulitnya mencari tempat reservasi berbuka puasa bersama saat bulan suci tiba.

Baca juga: Ratusan golok kuno era 800–900 dipamerkan di Universitas Pakuan

Sementara itu, Ketua Forum Pembauran Kebangsaan Regional Kaltim Syaharie Jaang memandang bahwa kegiatan iftar bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan ruang interaksi sosial yang mencerminkan tingginya nilai toleransi.

Ia mencontohkan bahwa nilai persaudaraan lintas iman sangat kental terasa di lingkungannya, di mana kepanitiaan acara berbuka puasa bersama sering kali dikoordinasi secara sukarela oleh warga beragama non-Muslim.

"Semangat kekeluargaan yang tecermin dari padatnya undangan berbuka puasa bersama hingga empat kali sehari ini membuktikan bahwa iftar adalah perekat keberagaman warga di Kalimantan Timur," kata dia.

Dengan demikian, menurut Jaang, dialog yang merefleksikan kearifan lokal ini diharapkan mampu menghasilkan masukan komprehensif agar esensi kebersamaan di bulan puasa dapat terus diwariskan secara utuh kepada generasi muda.

Baca juga: Menbud RI ajak Iran bahas potensi Iftar jadi nominasi bersama UNESCO

Baca juga: Menjaga Labuhan Sarangan menjadi tradisi dan ikon pariwisata Magetan

Baca juga: Pemerintah tetapkan 514 warisan budaya takbenda Indonesia

Pewarta: Ahmad Rifandi
Editor: Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |