BPJS: biaya per pasien gagal ginjal lebih banyak dari jantung

8 hours ago 1

Jakarta (ANTARA) - Analis Kebijakan Penjaminan Manfaat Rujukan Pratama BPJS Kesehatan, drg. Tiffany Monica mengemukakan biaya penanganan per pasien gagal ginjal pada 2025 tercatat lebih tinggi dibandingkan penyakit jantung.

Dalam diskusi kesehatan memperingati Hari Ginjal Sedunia 2026 di Jakarta, Rabu, Tiffany menyampaikan BPJS Kesehatan sepanjang 2025 menggelontorkan biaya sekitar Rp13 triliun untuk penanganan penyakit gagal ginjal.

Angka tersebut menempatkan gagal ginjal sebagai pembiayaan tertinggi kedua, setelah penyakit jantung yang mencapai Rp17 triliun.

Meski berada di posisi kedua, lanjut Tiffany, apabila dilihat dari jumlah jiwa, pasien gagal ginjal hanya sekitar 640 ribu jiwa, jauh lebih sedikit dibandingkan pasien jantung yang mencapai 3 juta jiwa.

Artinya, dengan pembiayaan Rp13 triliun ini diakses oleh 600 ribu-an pasien gagal ginjal, sementara biaya Rp17 triliun untuk jantung diakses oleh tiga juta jiwa.

Baca juga: Kenali tanda-tanda penyakit ginjal sejak dini untuk pencegahan

“Jadi walaupun memang secara nominal damage-nya lebih besar jantung, tapi secara pembiayaan per orang ini sebenarnya di ginjal banyak sekali pembiayaannya,” kata Tiffany.

Tiffany mengatakan pembiayaan penyakit ginjal cukup besar karena terapinya beragam dan bekelanjutan, seperti hemodialisis atau cuci darah yang harus dilakukan dua-tiga kali dalam seminggu, serta transplantasi yang membutuhkan obat-obatan dengan biaya besar setiap bulannya.

BPJS Kesehatan juga mencatat, pada 2025 kasus gagal ginjal di Indonesia paling banyak ditemukan pada pasien laki-laki, terutama pada kelompok usia 50 hingga 60 tahun.

Namun, Tiffany menyoroti temuan munculnya kasus gagal ginjal pada kelompok usia produktif. Berdasarkan data klaim, terdapat pasien berusia belasan hingga 20-an tahun yang sudah tercatat mengalami gangguan ginjal.

“Di angka belasan tahun, 20 tahun, usia-usia muda produktif, ini di data klaim BPJS Kesehatan tercatat sudah mengalami gagal ginjal. Walaupun mungkin kita belum tahu ya stage berapa, tapi secara besar memang dari stage 3, 4, 5 ini juga masuk di sini,” tutur dia.

Baca juga: Tujuh penyebab gagal ginjal yang jarang diketahui

Tiffany juga menyampaikan BPJS Kesehatan mencatat klaim layanan hemodialisis atau cuci darah terus meningkat, di mana pada 2025 mengalami kenaikan sekitar 7 persen dibandingkan sebelumnya.

“Di 2025 ini ada 147 ribu kunjungan klaim hemodialisa. Walaupun kita tahu ya sudah banyak modialisa yang lain seperti CAPD, transplant, tapi memang hemodialisa makin terus naik,” imbuh dia.

Dari sisi estimasi pembiayaan, lanjut Tiffany, BPJS Kesehatan total biaya hemodialisis ada kurang lebih di Rp7 triliun secara general dari 2021. Sementara dari sisi frekuensi, pasien menjalani hemodialisis sebanyak 9 hingga 12 kali per bulan.

Kemudian, beranjak ke terapi cuci darah Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD) di 2025 mencatat kurang lebih 3.247 jiwa berdasarkan data klaim, dengan pembiayaan di Rp210 miliar.

“Ini bertambah terus tiap tahun walaupun memang pertambahannya tidak eksponensial, cukup pelan-pelan tapi perlahan tampaknya semakin banyak yang pindah ke CAPD,” kata dia.

Sementara itu, untuk transplantasi ginjal, pada 2025 tercatat ada 135 peserta. Jumlah ini sedikit meningkat dibandingkan 2024 yang mencapai 130 peserta.

Lebih lanjut, Tiffany menambahkan perlunya urgensi pergeseran paradigma dari pendekatan kuratif yang mahal menuju strategi preventif yang lebih efektif, di mana fokus mengelola efisiensi pembiayaan agar tetap berkelanjutan tanpa mengorbankan kualitas layanan bagi pasien.

“Dengan mengoptimalkan deteksi dini serta edukasi gaya hidup sehat sebagai langkah mitigasi beban ekonomi jangka panjang,” tutur dia.

Baca juga: Cegah makanan berpengawet dan perawatan penyakit ginjal pada anak

Baca juga: Kenali gejala, penyebab, dan cara mengobati penyakit ginjal

Baca juga: Makanan dan minuman tidak secara langsung sebabkan penyakit ginjal

Pewarta: Sri Dewi Larasati
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |