Pangkalan Bun (ANTARA) - Direktur Keuangan, Umum, Kepatuhan dan Manajemen Risiko Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Zaid Burhan Ibrahim menyatakan produk turunan sawit selalu ada dalam kehidupan sehari-hari.
“Jadi kalau kita perhatikan sawit ini 24 jam secara tidak kita sadari ada dalam kehidupan kita semua. Ada yang sudah jadi kosmetik, kalau yang suka bersolek tidak sadar itu ada unsur sawitnya juga, ada yang sudah jadi bahan bakar, ada yang sudah jadi minyak goreng, dan lain sebagainya,” katanya dalam Media Briefing “Industri Sawit yang Berkelanjutan di Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, Rabu.
Selain itu, lanjutnya, limbah dari sawit juga dimanfaatkan untuk pembuatan helm, baju batik, hingga rompi anti peluru.
Dalam konteks ini, kelapa sawit dinilai mempunyai keunggulan yang tak dimiliki komoditas minyak nabati lain, yakni kemampuan menghasilkan sekitar 4 ton minyak per hektare (ha). Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan kedelai hanya 0,4 ton per ha, bunga matahari 0,6 ton per ha, maupun kacang merah (red seed) yang tak mencapai seperlima dari produktivitas sawit.
Baca juga: BPDP: Partisipasi perempuan tentukan keberlanjutan industri sawit
Tingkat produktivitas yang tinggi dari sawit membuat komoditas itu mampu memenuhi kebutuhan minyak nabati dengan penggunaan bahan yang disebut relatif efisien.
“Inilah mengapa sawit sering disebut the most land efficient vegetable oil crop (tanaman penghasil minyak nabati yang paling efisien dalam penggunaan lahan). Oil crop artinya apa? Jika dunia membutuhkan minyak nabati dengan jumlah yang sama tetapi tanpa sawit, maka lahan yang dibutuhkan akan lebih luas,” ungkap Zaid.
Bagi Indonesia, kata dia, sawit merupakan salah satu motor penggerak ekonomi nasional mengingat nilai ekspor yang dihasilkan setiap tahun dari komoditas tersebut mencapai lebih dari 20 miliar dolar AS, sehingga menjadi salah satu penyumbang devisa terbesar bagi negara.
Ekspor sawit saat ini dikatakan telah mengalami perubahan positif karena 80 persen dari total ekspor sudah berbentuk produk hilir, bukan lagi minyak mentah. Hal ini menunjukkan bahwa hilirisasi mulai memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi industri nasional.
Selain memberikan devisa, sektor perkebunan (yang di dalamnya mencakup antara lain kelapa sawit) juga memberikan kontribusi sekitar 4,56 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, sekaligus menjadi bagian penting dari sektor pertanian yang merupakan salah satu penopang utama perekonomian nasional.
“Selain memberikan devisa, sektor perkebunan juga memberikan kontribusi terhadap PDB (Produk Domestik Bruto) nasional. Tahun 2025, sektor perkebunan memberikan kontribusi sekitar 4,56 persen terhadap PDB Indonesia, sekaligus menjadi bagian penting dari sektor pertanian yang merupakan salah satu penopang utama perekonomian nasional,” ucap dia.
Baca juga: Peneliti tekankan pemanfaatan limbah sawit jadi produk UMKM
Baca juga: RPN dan BPDP kolaborasi meningkatkan kualitas TBS sawit petani
Pewarta: M Baqir Idrus Alatas
Editor: Evi Ratnawati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































