BPDAS Mahakam Berau: Rehabilitasi mangrove perlu dilakukan terpadu

5 hours ago 2

Samarinda (ANTARA) - Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Mahakam Berau menyatakan rehabilitasi mangrove perlu dilakukan secara terpadu dengan melindungi habitat yang ada, memulihkan kawasan, serta melibatkan berbagai pihak agar manfaat ekologis dan sosial ekonomi dapat dirasakan secara berkelanjutan.

"Rehabilitasi bukan hanya memulihkan, tapi juga melindungi habitat yang masih ada," kata Pelaksana Tugas Kepala BPDAS Mahakam Berau Indi Hendraswari dalam kegiatan "Potret dan Transformasi Mangrove Kalimantan Timur Bersama M4CR" di Samarinda, Kamis.

Menurut dia, pendekatan tersebut diperlukan karena Kalimantan Timur kehilangan sekitar 102.040 hektare atau 36,6 persen tutupan mangrove sepanjang 1994 hingga 2024.

Ia menjelaskan jika semak belukar bekas tambak yang terbengkalai turut diperhitungkan, kontribusi aktivitas pertambakan terhadap deforestasi mangrove mencapai sekitar 91 persen dalam tiga dekade terakhir.

Baca juga: Indonesia ajak anggota APEC bergabung dalam World Mangrove Center

Indi mengatakan alih fungsi lahan menjadi tambak, keberadaan tambak yang terbengkalai, perkebunan sawit, abrasi, sedimentasi, serta gelombang dan arus yang merusak tanggul menjadi sejumlah faktor yang memicu hilangnya tutupan mangrove di Kalimantan Timur.

Selain itu, pengalaman rehabilitasi pada masa lalu juga menunjukkan bahwa pemulihan mangrove tidak selalu berhasil akibat penggunaan jenis bibit yang kurang sesuai serta pendekatan yang masih berorientasi pada proyek.

Berdasarkan data yang dipaparkan, Kalimantan Timur memiliki ekosistem mangrove seluas 240.929 hektare yang tersebar di tujuh kabupaten dan kota. Data tersebut juga menunjukkan sekitar 58.116 hektare mangrove memerlukan rehabilitasi.

Untuk mendukung upaya tersebut, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur bersama para pemangku kepentingan menjalankan program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR).

Program tersebut mencakup rehabilitasi mangrove, penguatan tata kelola, pelibatan masyarakat, serta pengembangan model tambak ramah lingkungan melalui smart silvofishery.

Baca juga: Wamenhut: Perlindungan hutan mangrove beri dampak sosial-ekonomi

Baca juga: Indonesia dorong pengembangan WMC dalam forum AWG-FM Kamboja

Pewarta: Farika Nur Khotimah
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |