Banda Aceh (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tengah menyatakan fenomena pergerakan longsoran tanah di wilayah Kampung (desa) Bah Kecamatan Ketol kabupaten setempat terus membesar sejak diketahui pertama kali sekitar tahun 2000-an.
"Beberapa sumber menjelaskan bahwa lubang kecil sudah mulai terbentuk sejak awal tahun 2000-an. Dimana pergerakan tanah terus terjadi secara bertahap sejak 2004," kata Kepala BPBD Aceh Tengah, Andalika yang dikonfirmasi dari Banda Aceh, Kamis.
Dirinya menjelaskan, sejauh ini memang belum ditemukan literasi pasti yang dapat menjelaskan awal mula terjadinya longsoran tanah berbentuk lubang dan terus membesar tersebut.
Tetapi, kata dia, setelah terjadi pergerakan awal sejak 2000-an sampai 2004, dan berdasarkan laporan dari masyarakat, sekitar 2006 longsoran tersebut sudah pernah memutus akses jalan Blang Mancung-Simpang Balik (penghubung Kabupaten Aceh Tengah - Bener Meriah).
Bahkan, pernah terjadi relokasi tempat tinggal masyarakat di Kampung Bah Serempah ke Kampung Serempah Baru pada tahun 2013-2014. "Rehabilitasi dan rekonstruksi yang dilakukan sebanyak tiga tahapan di periode tahun tersebut," ujarnya.
Andalika menjelaskan, sebelumnya pernah dilakukan kajian tentang longsoran tanah tersebut, dan berdasarkan data dari Dinas ESDM Aceh, pergerakan tanah terus meningkat secara bertahap setiap tahunnya.
Baca juga: BPBD imbau masyarakat waspadai longsor di musim hujan
Sejak 2011, sudah dimulai pengukuran pertambahan luasan skala longsoran tanah oleh ESDM Aceh. Data terbaru mereka, pada 2025 luasan longsoran tanah mencapai lebih dari 27 ribu meter luas dan semakin mendekati jalan lintas di sana.
Lalu, pada 2022, tim geologi dan survei geofisika ESDM Aceh pernah melakukan kolaborasi kajian longsoran tanah tersebut di sana bersama BPBD Aceh Tengah.
Hasil kajiannya, longsoran tanah di Kampung Bah ini berada pada lapisan tanah permukaan dengan zona jenuh air dan didominasi oleh material vulkanik yang mudah menghantarkan air.
"Pergerakan tanah di lokasi tersebut sangat aktif dan berkelanjutan. Wilayah longsoran tanah di Kampung Bah tersebut dikategorikan sebagai zona tinggi rawan pergerakan tanah, sehingga memerlukan penanganan struktural dan non struktural segera dan berkelanjutan," katanya.
Andalika menuturkan, setelah adanya berbagai kajian itu, longsoran tanah di Kampung Bah saat ini bukan jenis amblesan tanah sinkhole klasik yang terbentuk karena adanya lubang runtuh secara tiba-tiba.
"Melainkan pergerakan material tanah yang terjadi secara perlahan (slow moving landslide)," ujarnya.
Kemudian, lanjut dia, diketahui bahwa penyebab terjadinya longsoran tanah itu dipengaruhi beberapa faktor, diantaranya struktur tanah yang tidak stabil karena tersusun dari material hasil letusan gunung api yang mudah tererosi, bersifat mudah jenuh air dan mudah bergerak, tidak termampatkan dan berumur muda (kuarter).
Lalu, curah hujan tinggi di daerah pegunungan membuat tanah sangat mudah tererosi. Sehingga, semakin sering terjadinya hujan skala longsoran tanah menjadi semakin meluas.
Lereng dan kemiringan tanah yang curam membuatnya sangat mudah tererosi. Visualisasi longsoran tanah di di sana memperlihatkan bidang gelincirnya sangat curam mendekati sudut 90 derajat.
"Retakan lama menjadi jalur masuk air baru. Pada saat terjadinya hujan, air akan masuk ke celah-celah tanah dan retakan yang lama, sehingga dapat sangat mudah memperluas skala longsoran tanah," jelasnya.
Tak hanya itu, kata dia, beban dinamis dan statis di sekitarnya mempercepat kerusakan. Apalagi, lalu lintas utama di sana (Blang-Mancung Simpang Balik) merupakan jalan vital yang banyak dilalui kendaraan, Beban secara terus menerus memberikan tekanan pada tanahnya yang tidak stabil.
Sehingga, tanah terus bergerak dan menjadi semakin cepat melemah. Beban lainnya yang memicu penekanan pada tanah seperti power sutet yang berada di sekitar lokasi dan aktivitas warga di perkebunan.
Faktor lainnya, lanjut Andalika, dari aktivitas gempa bumi dapat memicu pergerakan tanah di lokasi longsoran. Hal ini dikarenakan getaran yang dihasilkan dari gempa bumi dapat mengganggu kestabilan lereng di lokasi longsoran tanah.
Baca juga: Geolog sebut fenomena sinkhole kerap terjadi di daerah bukit kapur
Kondisi saat ini, diperparah dengan seiring meningkatnya aktivitas gempa tektonik dan vulkanis gunung api Burni Telong Kabupaten Bener Meriah yang berada pada kisaran 20-35 KM dari lokasi.
"Namun, hingga saat ini belum ada penelitian lebih lanjut terkait korelasi aktivitas gempa bumi dengan dampak meluasnya longsoran tanah di lokasi tersebut," katanya.
Dalam kesempatan ini, Andalika menyatakan bahwa perlu adanya rekomendasi struktural/teknis dan non-struktural lebih lanjut terkait penanganan longsoran tanahnya.
Sejauh ini, mereka terus melaksanakan pemantauan berkala dan berkelanjutan terhadap perkembangan gerakan tanah.
Lalu, telah memasang rambu peringatan rawan longsor, garis pembatas serta pengaman di sekitar lokasi longsoran tanah untuk mengurangi risiko kecelakaan.
Untuk masyarakat, terdapat pemukiman penduduk yang berjarak lebih kurang satu kilometer dari longsoran tanah tersebut. Untuk relokasinya belum direncanakan sejauh ini.
"Perkampungan jarak lebih kurang satu km dari titik longsoran. Untuk pemukiman belum ada rencana untuk relokasi. Mungkin setelah ada kajian terbaru baru bisa disimpulkan," tegasnya.
"Kita juga terus berkoordinasi lintas sektor antara BPBD, Dinas PUPR, Dinas ESDM dan OPD pemerintah lainnya terkait langkah jitu relokasi trase jalan Simpang Baling-Blang Mancung, dan keberadaan power sutet serta perkebunan masyarakat di sekitar lokasi tersebut," demikian Andalika.
Baca juga: Wagub Sumbar tegaskan air sinkhole mengandung bakteri E-Coli
Pewarta: Rahmat Fajri
Editor: Nurul Hayat
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































