Jakarta (ANTARA) - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan sebanyak 10 unit rumah warga di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah (Jateng) berada dalam perhatian dan pengawasan pemerintah karena terancam oleh pergerakan tanah akibat bencana tanah longsor.
"Ada 10 rumah warga berada dalam kondisi terancam akibat pergerakan tanah di sekitar lokasi longsor," kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari di Jakarta, Senin.
Dia menjelaskan bahwa rumah warga yang terancam pergerakan tanah itu berada di Dusun Jombok Jojogan, Desa Petuguran, Kecamatan Punggelan, yang sebelumnya mengalami tanah longsor, Sabtu (16/5) sore.
Dampak lain dari longsoran tersebut adalah tertutupnya akses Jalan Turut yang merupakan jalur penghubung menuju Desa Jembangan, sehingga menghambat mobilitas transportasi dan aktivitas harian warga setempat.
BNPB mengkonfirmasi dalam peristiwa ini sedikitnya ada 11 keluarga atau 32 jiwa harus mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Untuk itu, Abdul memastikan bahwa tim reaksi cepat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banjarnegara bersama unsur terkait sudah dikerahkan ke lokasi untuk melakukan peninjauan lapangan, pendataan warga, serta membersihkan material longsoran yang menutup jalan.
"BPBD juga intensif berkoordinasi dengan pemerintah desa setempat guna menentukan langkah mitigasi lanjutan bagi 10 rumah yang terancam tersebut," kata dia, seraya menambahkan bahwa saat ini, penanganan bencana masih mengacu pada Keputusan Gubernur Jawa Tengah Nomor 100.3.3.1/409 tentang Penetapan Status Siaga Darurat Bencana Banjir, Tanah Longsor, dan Cuaca Ekstrem di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2025/2026 yang berlaku mulai 23 Oktober 2025 hingga 23 Mei 2026.
Baca juga: Pemprov Jateng salurkan Rp2,8 M untuk korban longsor Situkung
Baca juga: BPBD Banjarnegara imbau warga waspadai potensi longsor
Baca juga: BPBD: Wilayah Banjarnegara diprediksi alami kemarau basah pada 2026
Pewarta: M. Riezko Bima Elko Prasetyo
Editor: Nurul Hayat
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































