Washington (ANTARA) - Amerika Serikat sedang mempertimbangkan untuk mengambil alih sementara kendali atas beberapa fasilitas nuklir di Iran sebagai salah satu opsi untuk menangani program nuklir negara tersebut.
Ada “rencana kontinjensi untuk sementara menduduki lokasi tertentu,” kata seorang sumber yang mengetahui situasi tersebut kepada situs berita AS Semafor, sebagaimana dilaporkan RIA Novosti pada Minggu.
Opsi lain yang sedang dipertimbangkan—yangdikembangkan oleh Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) bersama Israel—adalah melibatkan potensi operasi darat AS di Iran untuk merebut dan menghancurkan lokasi-lokasi nuklir utama.
“Mereka tidak terlalu sering melakukan hal itu di masa lalu, kalau pernah sekalipun, tetapi mereka berlatih untuk itu. Mereka mahir dalam hal itu. Itu adalah salah satu opsi yang ada di meja dan mungkin tidak banyak diberitakan di media, tetapi memang ada,: kata Jonathan Hackett, mantan interogator United States Marine Corps.
Hackett yang juga spesialis kemampuan operasi khusus itu menjelaskan bahwa unit-unit semacam itu dilatih untuk misi yang bertujuan mengamankan atau menghancurkan bahan fisil, sentrifus, serta peralatan lain yang terkait dengan program senjata pemusnah massal.
Pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan korban sipil. Iran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di kawasan Timur Tengah.
AS dan Israel awalnya menyatakan bahwa serangan “preemptive” tersebut diperlukan untuk menghadapi ancaman yang dianggap berasal dari program nuklir Iran, tetapi mereka dengan segera menyatakan bahwa mereka ingin melihat perubahan kekuasaan di Iran.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti
Baca juga: Teheran: Negara yang bantu serangan AS akan jadi target sah Iran
Baca juga: Dubes Iran: Ali Khamenei telah fatwakan senjata nuklir haram
Baca juga: PM Carney: Kanada dukung serangan ke Iran dengan "rasa sesal"
Penerjemah: Kuntum Khaira Riswan
Editor: Azis Kurmala
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































