Jakarta (ANTARA) - Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko Infrawil) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyebut keberlanjutan proyek kereta cepat Whoosh hingga Jawa Timur dilakukan secara paralel sambil menunggu restrukturisasi keuangan PT Kereta Cepat Indonesia China sebagai operator Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB).
Ia mengatakan telah melakukan pertemuan dengan Kementerian Keuangan dan Danantara Indonesia terkait dengan rencana Whoosh beroperasi hingga Banyuwangi, Jawa Timur.
"Tahapan hari ini kita lakukan paralel," ujar AHY dalam konferensi pers Update Pelaksanaan Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) dan Persiapan Mudik Lebaran di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu.
AHY menjelaskan sambil mengembangkan proyek lanjutan Whoosh, pemerintah juga akan memastikan restrukturisasi keuangan KCJB tetap berjalan.
Menurutnya, restrukturisasi keuangan KCJB menjadi sangat penting lantaran akan mempengaruhi peta jalan atau roadmap pengembangan Whoosh hingga Jawa Timur.
Lebih lanjut, AHY mengatakan apabila solusi untuk permasalahan keuangan KCJB telah didapatkan maka proyek masa depan Whoosh dapat dilanjutkan.
"Sebaiknya kita pastikan dulu KCJB-nya tuntas, artinya solusinya sudah bisa diambil dengan baik, baru setelah itu kita kembangkan berikutnya," jelasnya.
AHY menekankan bahwa pemerintah masih memiliki semangat untuk terus mengelola dan mengembangkan Whoosh agar manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat yang lebih luas.
Ia menyampaikan kehadiran Whoosh hingga wilayah terujung Jawa Timur dapat mengubah peta pembangunan di daerah yang dilalui.
"Kalau Jakarta-Surabaya bisa ditempuh dalam waktu kurang lebih 3 jam saja lewat kereta, saya rasa ini akan mengubah peta pembangunan, sekaligus juga pertumbuhan ekonomi baru bisa kita hadirkan di sepanjang jalur," imbuhnya.
Baca juga: Danantara target negosiasi utang Whoosh tuntas kuartal I-2026
Baca juga: Purbaya mengaku belum bahas utang KCIC dengan Istana
Baca juga: Whoosh catat lonjakan penumpang hingga 25 persen saat libur Imlek
Pewarta: Maria Cicilia Galuh Prayudhia
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































