101 tahun Asrul Sani, Perpusnas luncurkan buku jejak intelektual

5 hours ago 1
pendekatan dakwah kebudayaan yang dilakukan Asrul Sani memiliki relevansi yang kuat dengan karakter masyarakat Indonesia yang majemuk.

Jakarta (ANTARA) - Perpustakaan Nasional (Perpusnas) meluncurkan buku "Seabad Setahun Asrul Sani: Intelektualitas, Jejak Karya, dan Sineas Indonesia" untuk memperingati 101 tahun sastrawan tersebut.

Buku yang terdiri atas dua jilid dengan total 1.784 halaman tersebut merupakan salah satu dokumentasi paling komprehensif mengenai pemikiran, karya, dan pengaruh Asrul Sani dalam perkembangan sastra, perfilman, teater, dan kebudayaan Indonesia. Karya ini memuat 86 tulisan dari 141 penulis dari kalangan profesional hingga keluarga Asrul Sani.

Kepala Perpusnas E. Aminudin Aziz di Jakarta, Rabu menyampaikan pandangannya mengenai sosok Asrul Sani yang dinilainya memiliki integritas intelektual dan keberanian budaya. Menurutnya, Asrul Sani merupakan figur yang tidak pernah nyaman ketika berhadapan dengan situasi yang bertentangan dengan kata hati maupun nilai-nilai yang diyakininya.

"Asrul Sani menunjukkan kesungguhan dan konsistensi yang luar biasa dalam berkarya. Dari berbagai arsip dan dokumentasi yang ditampilkan dalam pameran, terlihat bagaimana setiap karya dipersiapkan dengan penuh dedikasi dan keseriusan. Totalitas ini yang harus menjadi pelajaran bagi generasi muda saat ini," ujar dia.

Tidak hanya dikenal sebagai pekerja budaya yang tekun, Asrul Sani juga dinilai memiliki kepekaan dalam membaca realitas sosial masyarakat. Salah satu contoh karyanya yakni tokoh Nagabonar yang digambarkan sebagai seorang pencopet, namun dapat tampil sebagai pahlawan.

Dalam kesempatan tersebut, Aminudin juga menekankan agar perpustakaan tidak hanya berfungsi menghimpun dan melestarikan koleksi, tetapi juga menghidupkan kembali pemikiran, gagasan, dan karya para tokoh bangsa melalui berbagai program literasi, pameran, diskusi, penelitian, serta publikasi.

"Saya selalu mengatakan bahwa perpustakaan jangan hanya dianggap sebagai tempat untuk menyimpan buku. Kami ingin mengubah persepsi itu dengan menghadirkan perpustakaan sebagai wahana pengembangan kreativitas," paparnya.

Oleh karena itu, peringatan Seabad Setahun Asrul Sani menjadi bagian dari upaya memperkuat literasi budaya sekaligus menghadirkan warisan intelektual bangsa kepada publik. Penerbitan buku tersebut menjadi upaya kolektif untuk merekam sekaligus mewariskan gagasan, pemikiran, dan jejak intelektual salah satu tokoh penting kebudayaan Indonesia.

Peluncuran buku tersebut terselenggara melalui kolaborasi antara Perpusnas, Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HISKI), Pelaku Sanggar Pelakon, serta berbagai pemangku kepentingan di bidang kebudayaan. Selain menjadi ruang refleksi atas kontribusi Asrul Sani, kegiatan tersebut juga memperkuat upaya pelestarian memori kolektif bangsa melalui dokumentasi, kajian, dan diseminasi pengetahuan kepada masyarakat.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Agama Republik Indonesia Nasaruddin Umar mengenang Asrul Sani sebagai sosok yang monumental dalam dunia seni dan dakwah Indonesia.

"Siapapun yang mencintai kebudayaan dan seni pasti akan mengenang nama besar seorang Asrul Sani. Tidak berlebihan kalau saya mengatakan bahwa beliau itu the real mubaligh," katanya saat memberikan sambutan secara daring.

Nasaruddin menjelaskan, dakwah yang dilakukan Asrul Sani tidak berlangsung melalui pendekatan konvensional seperti mimbar, khutbah, maupun ceramah di majelis taklim. Sebaliknya, ia mengekspresikan kualitas intelektual dan spiritualnya melalui karya-karya seni yang mampu menjangkau masyarakat luas.

"Karya-karya Asrul Sani itu menyentuh intelektualitas, batin, dan realitas masyarakat. Seorang Asrul Sani tidak pernah dipanggil kiai atau ustaz, tetapi karya-karyanya sangat efektif menyampaikan pesan-pesan keagamaan," jelasnya.

Menurut Nasaruddin, pendekatan dakwah kebudayaan yang dilakukan Asrul Sani memiliki relevansi yang kuat dengan karakter masyarakat Indonesia yang majemuk.

P"Melalui karya-karyanya, beliau mengajarkan bagaimana masyarakat mencintai agamanya sekaligus mencintai negerinya dan memberikan loyalitas nyata kepada bangsa," tuturnya.

Baca juga: 101 tahun Asrul Sani, Perpusnas dorong adaptasi karya klasik

Baca juga: Karya Asrul Sani jadi media untuk merawat dan majukan kebudayaan

Pewarta: Lintang Budiyanti Prameswari
Editor: Rini Utami
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |