Rombongan Bodonk Koplo kritik tren lagu pakai akal imitasi

2 hours ago 2

Jakarta (ANTARA) - Personel grup musik Rombongan Bodonk Koplo mengkritik tren lagu dibuat dengan akal imitasi (Artificial Intelligence/AI) karena seharusnya sebuah lagu dibuat secara mandiri oleh manusia.

"Kenapa enggak pakai suara sendiri dan karya sendiri. Manusianya kan banyak," ujar Clarisya Putri Maula (Acica) di kawasan Rawasari, Jakarta, Rabu.

Pelantun "Benci Kangen Kamu" dari RoBoKop itu menilai teknologi AI lebih bagus difungsikan sebagai alat bantu, misalnya untuk membantu proses memendekkan lagu menjadi referensi melodi atau lirik yang hendak diperlihatkan kepada produser (demo lagu).

"Menurut aku, AI itu bagusnya sebagai pembantu aja misalkan untuk bikin demo lagu, tapi jangan dijadikan sebuah karya," kata Acica.

Galih Fajar (Galgadun) menyetujui pandangan Acica dan secara tegas menolak tren lagu yang dibuat dengan akal imitasi, terlebih jika itu dibuat untuk kepentingan komersial.

"Untuk komersil apalagi ya, enggak ya," kata Galgadun.

Baca juga: MV buat karya Robokoplo dan Ncum "Calon Mantu Indaman" makin seru

Galgadun menilai lagu buatan AI yang ada saat ini belum dapat berinovasi lebih canggih untuk bisa menyaingi lagu yang dibuat oleh musisi yang asli. Meskipun liriknya sudah, sebatas bisa, meniru lirik lagu yang sederhana.

"AI itu sudah 'template' banget sekarang," kata Galgadun.

Karena itu, RoBoKop mempertahankan lirik lagu mereka tetap sederhana. Menurut Galgadun, lirik yang ringan dan sederhana tetap bisa menghadirkan kesan mendalam jika ditulis sendiri karena perasaan yang dibawakan itu murni dan tulus.

"Ya walaupun kita juga liriknya yang ringan-ringan ya, tapi ya 'feel'-nya beda lah," kata Galgadun.

Keterlibatan penuh seluruh personel, yakni Clarisya Putri Maula (Acica), Erika Putri, Galih Fajar (Galgadun), dan Alfriki Azhari (Bang Bodonk) dalam menyusun lagu secara manual memungkinkan perasaan murni dan tulus muncul.

Terlebih, proses kreatif itu dilakukan saat seluruh anggota grup berkumpul di satu tempat.

Di situ, mereka mulai menulis lirik lagu secara bersama-sama dan menentukan "beat" musik sejak awal.

Mereka baru melibatkan peran produser jika konsep musik yang diinginkan telah disepakati secara bersama-sama.

Baca juga: Rombongan Bodonk Koplo gaet Ncum hadirkan "Calon Mantu Idaman"

Pendekatan ini memungkinkan mereka untuk memiliki kendali yang lebih besar atas arah musikal lagu tersebut.

Cerita yang diangkat mencakup peristiwa nyata dari lingkungan sekitar hingga pengalaman hidup para anggota.

​Dalam pengakuan para personel, lagu yang dihasilkan memuat berbagai perspektif, baik sebagai pihak yang terdampak maupun sebagai pelaku dalam suatu situasi sosial percintaan.

​"Karena ini adalah experience masing-masing ya. Ada yang menjadi korban, ada yang menjadi pelaku ternyata di sini," ujar Bang Bodonk.

Dengan menyatukan sudut pandang dari keempat personel, lagu-lagu RoBoKop mampu memuat lapisan cerita yang lebih beragam, sehingga pendengar dapat lebih mudah mengidentifikasi diri dengan pesan yang disampaikan dalam lagu. Pendekatan ini merupakan upaya para personel untuk memperkuat karakter musik mereka.

Selain eksplorasi arah musik bersama-sama, Rombongan Bodonk Koplo juga melakukan penyesuaian pada diksi lirik dengan menggunakan istilah sehari-hari yang akrab dengan lintas generasi karena sering dijumpai di media sosial.

​"Jadi, lirik kita tuh enggak baku. Ya, karena ada kata-kata 'slang' yang perlu diekspresikan, terus di liriknya juga kita ada bahasa Inggris yang 'fine sh*t' untuk memperkaya instrumen dan nuansa musik yang dihasilkan terasa lebih segar bagi pendengar," ujar Galgadun menandaskan.

Baca juga: Indro Warkop curahkan kerinduan ke dalam lagu "Dan Aku Rindu"

Baca juga: Lagu-lagu MALIQ & D’Essentials ditampilkan dalam pertunjukan musikal

Pewarta: Abdu Faisal
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |