Jakarta (ANTARA) - Jumlah wisatawan asing yakni ke Jepang, terutama dari China menurun lebih dari setengah menyusul hubungan bilateral kedua negara yang memburuk.
Diwartakan Kyodo pada Rabu (15/7) waktu setempat, wisatawan asal negeri Tirai Bambu itu menurun 56,4 persen dibanding tahun sebelumnya (yoy) menjadi 2,06 juta. Sementara secara umum, pengunjung asing ke Jepang turun 2,0 persen dari tahun sebelumnya (yoy) menjadi 21,1 juta pada enam bulan pertama tahun 2026.
Sementara catatan kunjungan ke Jepang dari Korea Selatan, Taiwan dan Amerika Serikat meningkat pada paruh tahun ini, secara total pengunjung asing pada bulan Juni saja mencapai 3,15 juta atau turun 6,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya. berdasarkan Organisasi Pariwisata Nasional Jepang.
Baca juga: PHRI apresiasi Disparekraf DKI perkuat promosi wisata di pasar China
Baca juga: Menelusuri destinasi wisata Kawasan Tua Qilou di Haikou
Hubungan bilateral kedua negara memburuk usai Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi pada awal November tahun lalu terlibat dalam situasi darurat di Taiwan.
PM Takaichi Sanae mengatakan pernyataannya tentang penggunaan kekuatan militer China terhadap Taiwan, dapat "menimbulkan situasi yang mengancam kelangsungan hidup bagi Jepang" kemudian dalam rapat dengan majelis rendah parlemen Jepang, PM Takaichi kembali menyatakan bahwa hal tersebut adalah sikap resmi pemerintah sehingga tidak akan menarik pernyataan itu.
Pemerintah China lantas mengumumkan agar warga tidak berplesiran ke Jepang usai pernyataan Sanae.
Beijing mengklaim pulau yang memerintah sendiri itu sebagai bagian dari wilayahnya dan bertujuan untuk menguasainya, dengan kekerasan jika perlu.
Kementerian Luar Negeri China mendesak agar Perdana Menteri (PM) Jepang Takaichi Sanae menarik pernyataan soal penggunaan kekuatan militer China atas Taiwan dapat menimbulkan situasi yang mengancam bagi Jepang.
Baca juga: Menteri Myanmar dorong penguatan kerja sama wisata salju Heilongjiang
Baca juga: Rute penerbangan baru diharapkan tingkatkan kunjungan wisatawan China
Baca juga: Desa kuno China kembangkan wisata berbasis budaya etnis
Penerjemah: Sinta Ambarwati
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































