Tapteng, Sumatera Utara (ANTARA) - Sejumlah warga korban tanah longsor di Tapanuli Utara, Sumatera Utara, sudah mulai menempati hunian sementara (huntara) yang dibangun oleh pemerintah.
Huntara yang berjumlah 40 unit tersebut tampak telah diisi oleh korban bencana tanah longsor yang berasal dari dua desa yaitu Desa Sibalanga, dan Desa Pagaran Lambung I, Kecamatan Adian Koting.
Seorang warga yang berasal dari Desa Sibalanga, Nurhaidah Aritonang di Tapanuli Utara, Senin, mengatakan, sudah menempati huntara yang dibangun oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sejak Senin (16/2).
"Hunian ini sudah lebih baik. Kami tidak was-was lagi," kata Nurhaidah.
Menurut dia, rumah sebelumnya, terdampak longsor dan sudah tidak layak dihuni, karena telah ditetapkan menjadi zona merah oleh pemerintah.
Baca juga: Penyintas bencana tanah bergerak Tapsel buka puasa pertama di huntara
Ia menyatakan bahwa huntara yang disediakan pemerintah juga sudah membantu warga, karena sebelum pindah mereka harus menempati tenda pengungsian serta rumah ibadah.
"Kami sempat menempati rumah ibadah selama satu bulan lebih setelah bencana terjadi," ujarnya.
Warga saat merapikan halaman Huntara di Tapanuli Utara, Senin (23/2/2026). ANTARA/Khaerul IzanSementara itu, warga lainnya, Mesra mengatakan, meski huntara belum 100 persen jadi, terutama untuk fasilitas jalan dan pengerjaan saluran air, namun sudah menjadi tempat yang lebih layak dan aman.
"Kalau sekarang kami tidak was-was lagi, jika terjadi turun hujan," katanya.
Sebelumnya, Bupati Tapanuli Utara Jonius Taripar Parsaoran Hutabarat mengatakan hunian sementara ditempati penyintas bencana hingga lima bulan ke depan dan nantinya huntara diproyeksikan menjadi hunian tetap.
Baca juga: Pengembang kebut pengerjaan huntara di Tapanuli Utara
Unit huntara telah dilengkapi sarana prasarana seperti jalan lingkungan, ketersediaan air bersih dan listrik PLN.
"Tidak tertutup kemungkinan hunian ini menjadi tetap, tetapi harus menunggu proses pengalihan hak tanah dan perlu dibicarakan kepada pemerintah pusat," kata Jonius, Kamis (5/2).
Pewarta: Khaerul Izan
Editor: Edy Sujatmiko
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































