Washington (ANTARA) - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Minggu (1/3) menyampaikan dia sepakat untuk melanjutkan kembali perundingan nuklir dengan kepemimpinan baru Iran.
"Mereka ingin melakukan pembicaraan, dan saya sepakat untuk berbicara, jadi saya akan berbicara dengan mereka," ujar Trump, seperti dikutip majalah The Atlantic dalam sesi wawancara via telepon.
"Mereka seharusnya melakukan hal itu lebih cepat. Mereka seharusnya memberikan hal yang sangat praktis dan mudah untuk dilakukan itu lebih cepat. Mereka menunggu terlalu lama," tutur Trump.
Sang presiden tidak memerinci dengan siapa dirinya akan bicara.
Saat ditanya apakah pembicaraannya dengan pihak Iran akan dilangsungkan dalam dua hari, Trump menjawab "saya tidak dapat memberi tahu Anda mengenai hal itu". Trump mengatakan beberapa negosiator Iran sebelumnya telah meninggal.
"Sebagian besar orang-orang tersebut telah meninggal dunia. Beberapa orang yang dulu kami ajak bernegosiasi sudah tiada. Itu merupakan pukulan besar," kata dia, merujuk pada serangan gabungan Israel-AS terhadap Iran yang dimulai pada Sabtu (28/2).
Mengenai apakah dia mengetahui adanya indikasi ancaman baru dari Iran terhadap wilayah AS sejak dimulainya serangan itu, Trump menuturkan "saya tidak ingin memberi tahu Anda mengenai hal tersebut".
Trump juga memperkirakan serangan terhadap Iran tidak akan mengganggu upaya Partai Republik menjelang pemilihan umum (pemilu) sela di AS untuk meyakinkan para pemilih bahwa pemerintahannya fokus pada perekonomian AS. Selain itu, dampak serangan tersebut terhadap pasar minyak, yang dibuka kembali pada Minggu malam, kemungkinan tidak terlalu mengganggu dompet warga AS dibandingkan dengan yang diperkirakan oleh beberapa analis.
Pada Minggu, beberapa jam sebelum Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dikonfirmasi tewas dalam serangan AS-Israel pada Sabtu pagi, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyampaikan kepada NBC News bahwa Iran "tentu saja tertarik untuk meredakan ketegangan" seraya menggambarkan seruan Trump terkait perubahan rezim di Iran sebagai "misi yang mustahil".
Pewarta: Xinhua
Editor: Natisha Andarningtyas
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































