Trump: Perundingan dengan Iran bisa dilanjutkan dua hari ke depan

4 hours ago 4

Washington (ANTARA) - Presiden Donald Trump menyampaikan optimisme tentang kemungkinan dimulainya kembali perundingan dengan Iran, yang disebutnya bisa terjadi dalam dua hari ke depan di Pakistan.

"Sesuatu bisa terjadi dalam dua hari ke depan,” kata Trump dalam wawancara telepon dengan New York Post, Selasa.

Dalam proses perundingan dengan Iran, Trump merujuk pada Marsekal Lapangan Pakistan Jenderal Asim Munir, yang memiliki hubungan kuat dengan Trump ketika ia berupaya menengahi penyelesaian konflik Pakistan-India tahun lalu.

"Dia fantastis, dan karena itu kemungkinan besar kami akan kembali ke sana," kata Trump.

Sekitar satu jam sebelum pernyataan tersebut, Trump berusaha meredam prospek kembalinya perundingan ke Pakistan, dengan mengatakan kepada Post dalam panggilan telepon terpisah.

“Kami mungkin akan pergi ke lokasi lain. Kami sudah mulai memikirkan lokasi lain (untuk perundingan),” ujarnya.

Tidak jelas apa yang berubah antara kedua panggilan telepon tersebut.

Seorang pejabat Gedung Putih secara terpisah mengonfirmasi bahwa pembicaraan lanjutan dengan Iran masih dipertimbangkan menjelang potensi berakhirnya gencatan senjata jangka pendek minggu depan.

"Pembicaraan selanjutnya sedang dibahas tetapi belum ada yang dijadwalkan saat ini," kata pejabat tersebut.

Perang yang melibatkan Iran, AS, dan Israel telah memicu lonjakan harga minyak dunia karena blokade Teheran di Selat Hormuz.

Namun, ketika perundingan pertama Iran-AS di Islamabad pekan lalu gagal menghasilkan kesepakatan, Trump memerintahkan Angkatan Laut AS untuk memblokade jalur maritim strategis tersebut.

Trump mengecam negara-negara Eropa karena menolak ikut serta dalam upaya membuka kembali Selat Hormuz.

Sebaliknya, banyak pemimpin Eropa justru menyalahkan Trump karena mulai memerangi Iran tanpa berkonsultasi dengan mereka.

Sumber: Anadolu

Baca juga: Trump sebut program nuklir Iran jadi ganjalan dalam perundingan

Baca juga: Iran sebut blokade AS di Selat Hormuz sebagai balas dendam

Penerjemah: Yashinta Difa
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |