Washington (ANTARA) - Presiden Amerika Serikat Donald Trump masih dapat mengeluarkan perintah untuk melakukan serangan terhadap Iran, dengan situasi di kawasan yang tetap bergejolak di tengah jeda dalam kampanye pengeboman.
RIA Novosti pada Senin, dengan mengutip The Wall Street Journal dengan mengutip pejabat AS, melaporkan bahwa Trump menunda rencana untuk meningkatkan secara tajam kampanye militer terhadap Iran karena kekhawatiran bahwa eskalasi dapat menguras persediaan rudal pertahanan udara yang sudah menipis secara berbahaya.
Pejabat pemerintahan Trump mengatakan bahwa negara-negara Teluk, termasuk Oman dan Qatar, sedang berupaya menghidupkan kembali proses diplomatik, demikian dilaporkan The Wall Street Journal pada Minggu.
Sementara itu, Axios melaporkan pada Sabtu, bahwa militer AS masih menyiapkan rencana kontingensi untuk kembali melakukan aksi militer berskala besar terhadap Iran, meskipun Presiden Donald Trump belum mengeluarkan perintah tersebut.
Menurut laporan itu, Trump memerintahkan penghentian serangan lebih lanjut pada Jumat, sekaligus mengakhiri rangkaian serangan berturut-turut selama 13 hari.
Adapun pada malam menjelang 18 Juni, Teheran dan Washington menandatangani nota kesepahaman untuk mengakhiri konflik yang dimulai pada 28 Februari. Namun, sejak 8 Juli, pasukan AS telah melancarkan beberapa rangkaian serangan terhadap Iran.
Komando Pusat AS (US Central Command) menyatakan bahwa serangan tersebut merupakan respons terhadap tindakan Iran terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz. Pasukan Iran merespons dengan melancarkan serangan terhadap pangkalan-pangkalan AS di Timur Tengah.
Sedangkan pada 12 Juli, Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz hingga AS menghentikan campur tangannya di kawasan tersebut, setelah kembali terjadi gelombang saling serang antara kedua pihak dalam konflik.
Sehari kemudian, Trump mengatakan bahwa Amerika Serikat akan menjadi “penjaga” Selat Hormuz. Ia juga kembali memberlakukan blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti
Baca juga: Iran sebut tak akan biarkan AS tentukan waktu perang dan perdamaian
Baca juga: CENTCOM usulkan akhiri serangan di Selat Hormuz demi efektivitas
Baca juga: NYT: Tentara AS yang terluka dalam konflik Iran meningkat, jadi 624
Penerjemah: Kuntum Khaira Riswan
Editor: Azis Kurmala
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































