Teknologi digital berdayakan pelestarian dan pewarisan warisan budaya

3 months ago 20

Hangzhou (ANTARA) - Sesaat Anda berjalan sendirian di hamparan musim dingin, jejak kaki menoreh salju. Sekejap kemudian, embun beku mencair menjadi aliran air tenang yang diapit bunga-bunga dafodil, bergetar lembut saat disentuh, sementara kunang-kunang berpendar menari di udara.

Ini bukanlah mimpi, melainkan instalasi seni interaktif yang terinspirasi oleh beragam motif dari 40 lukisan China kuno, yang menawarkan pengalaman imersif bagi para pengunjung untuk menikmati keindahan seni tradisional melalui inovasi digital.

Instalasi ini dipamerkan di Light of Internet Expo, sebuah pameran yang diselenggarakan di sela-sela ajang Konferensi Internet Dunia (World Internet Conference/WIC) Wuzhen Summit 2025 selama tiga hari, yang berakhir pada Minggu (9/11) di kota air kuno Wuzhen di Provinsi Zhejiang, China.

Instalasi ini merupakan proyek digital dari program "Koleksi Komprehensif Lukisan China Kuno" (A Comprehensive Collection of Ancient Chinese Paintings) yang diselenggarakan oleh Universitas Zhejiang dan administrasi warisan budaya Provinsi Zhejiang.

Hingga kini, program tersebut telah mengumpulkan dan memublikasikan lebih dari 12.000 lukisan China dari 260 lebih institusi budaya di seluruh dunia.

"Sungguh pengalaman yang menyegarkan untuk melihat elemen-elemen dari lukisan kuno terkenal terbentang di hadapan saya dan dapat berinteraksi dengan semua itu," ujar seorang pengunjung bermarga Ji, yang mengaktifkan lentera langit virtual di dinding interaktif hanya dengan satu sentuhan saja.

Menurut Sun Xiaojun, wakil kepala dewan editorial program ini, instalasi tersebut mengintegrasikan proyeksi holografik, pemrosesan audio spasial, dan teknologi interaksi multisensoris waktu nyata (real-time) untuk menghidupkan seni klasik dalam format interaktif.

Sun mengatakan program ini bertujuan untuk memastikan bahwa lukisan China kuno tidak hanya diarsipkan sebagai peninggalan, tetapi juga diberdayakan melalui teknologi digital untuk mencetuskan minat publik dan menjangkau khalayak yang lebih luas. Sejak 2022, program ini telah memamerkan hasil digitalnya di dalam dan luar negeri.

Peran teknologi digital dalam merevolusi pelestarian dan pewarisan warisan budaya menjadi sorotan utama dalam WIC Wuzhen Summit tahun ini. Berbagai diskusi menyoroti bagaimana kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), realitas virtual (virtual reality/VR), dan alat digital lainnya mengembuskan kehidupan baru ke dalam harta karun kuno.

Pada pameran ini, sebuah proyek VR membawa pengunjung kembali ke zaman Dinasti Song (960-1279) di Hangzhou, memungkinkan mereka menjelajahi keindahan arsitektur bangunan kayu di kota tersebut.

Pengalaman realitas campuran (mixed reality/MR) lainnya mengajak para peserta menelusuri waktu lebih dari 200 tahun ke masa lalu untuk menyaksikan proses penyusunan Siku Quanshu (Perpustakaan Lengkap dalam Empat Cabang Sastra), salah satu koleksi buku paling komprehensif dalam sejarah China.

Untuk mempromosikan lebih lanjut inovasi-inovasi tersebut, WIC pada Jumat (7/11) membentuk komite khusus untuk digitalisasi warisan budaya, yang bertujuan meningkatkan pengembangan kapasitas serta mempromosikan pertukaran dan kerja sama global di bidang ini.

Ren Xianliang, sekretaris jenderal WIC, mengatakan pembentukan komite tersebut "datang pada saat yang sangat penting di tengah gelombang digitalisasi global," seraya menambahkan bahwa teknologi seperti AI telah menyediakan alat yang sangat andal untuk memajukan perlindungan, pewarisan, dan pemanfaatan warisan budaya.

Pada Minggu, para delegasi dari pertemuan tersebut juga menghadiri subforum tentang digitalisasi warisan budaya, berbagi praktik terbaik untuk pelestarian yang lebih baik serta mengeksplorasi area kerja sama di masa depan.

Ding Pengbo, wakil direktur Museum Nasional China, mengatakan bahwa meskipun baru-baru ini terdapat kemajuan, tantangan tetap ada, termasuk cakupan dan kualitas data yang tidak mencukupi, serta terbatasnya penggunaan AI dan teknologi canggih lainnya dalam pelestarian warisan budaya, karena tingginya biaya dan kesulitan implementasi.

Ding menyerukan percepatan upaya untuk membangun basis data digital berkualitas tinggi tentang warisan budaya dan memperkuat kolaborasi global melalui platform seperti WIC guna mendorong ekosistem yang terbuka, inklusif, dan berkelanjutan untuk digitalisasi warisan budaya.

Pewarta: Xinhua
Editor: Junaydi Suswanto
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |