Jakarta (ANTARA) - Sutradara Korea Yeon Sang Ho yang sebelumnya menggarap film fenomenal berjudul "Train to Busan" menyebut ibunya menjadi inspirasi dari karya terbarunya.
Film terbarunya yang diberi judul "Paradise Lost" dan dijadwalkan rilis pada 21 Oktober itu dikatakannya terinspirasi oleh cerita tiga halaman yang ditulis oleh ibunya sendiri menurut siaran Kantor Berita Yonhap pada Jumat (18/9).
"Saya sudah mengatakan ini sebelumnya, tetapi ibu saya sangat menyayangi saya. Suatu hari, saat saya mengunjunginya, dia mengatakan dia khawatir bahwa penulisan skenario terlalu sulit bagi saya. Saya mengatakan kepadanya bahwa itu tidak sulit dan siapa pun bisa menulis," kata Yeon.
Baca juga: "Paradise lost" cinta dalam kejamnya perdagangan narkoba
Yeon bercerita ketika ibunya menunjukkan cerita tiga halaman itu, dia langsung membelinya sambil bercanda akan membayarnya dengan "harga diskon". Menurutnya, film terbaru kali ini juga didasarkan pada versi ketiga dan terakhir dari skenario yang ia kembangkan berdasarkan catatan wanita itu.
"Paradise Lost" adalah film thriller psikologis yang mengikuti pertemuan kembali yang meresahkan antara So Young (Kim Hyun Joo) dan putranya Sun Woo (Bae Hyun Sung), yang diduga meninggal dalam kecelakaan bus sekolah sembilan tahun lalu.
Dalam film itu, Yeon akan eksplorasi distopia tentang jiwa manusia dengan berfokus pada hubungan ibu-anak dalam "Paradise Lost", setelah sebelumnya menggali hubungan ayah-anak dalam "The Ugly".
Baca juga: Yeon Sang-ho garap "Parasyte: Tamiya" dibintangi Shioli Kutsuna
Ia menyebut film tersebut sebagai salah satu karyanya yang paling kelam hingga saat ini. Film ini, yang juga membahas peran kecerdasan buatan (AI) dalam kehidupan manusia, menggambarkan konflik batin So Young saat ia menemukan putra kandungnya berbeda dari versi dirinya yang sempurna dan lebih muda yang ia ciptakan kembali menggunakan AI.
Seperti yang tersirat dalam judul film, Yeon mengatakan skenario tersebut juga terinspirasi oleh puisi epik klasik karya penyair Inggris John Milton dengan judul yang sama.
"Saya ingin menceritakan kisah tentang memperoleh identitas manusia setelah meninggalkan surga yang sempurna dan memasuki dunia yang tidak sempurna," kata sutradara tersebut.
Baca juga: Film zombi "Colony" puncaki daftar film terlaris akhir pekan di Korea
Dia mengaku mencoba untuk membandingkan kenangan yang tersimpan dalam keadaan sempurna, dengan bantuan teknologi, dengan pilihan manusia yang tidak sempurna.
Mencatat bahwa "Paradise Lost" adalah proyek beranggaran rendah keduanya, Yeon mengatakan model produksi tersebut memungkinkan dia, para pemain, dan kru untuk bekerja dalam suasana yang lebih santai, dengan tekanan yang lebih sedikit pada pengembalian investasi.
Pada saat yang sama, Yeon yang telah mengerjakan film beranggaran rendah, film komersial, dan bahkan serial Netflix Jepang "Human Vapor" dalam beberapa tahun terakhir, mengatakan bahwa ia merasa bersemangat kembali setiap kali memulai proyek baru.
Baca juga: Sutradara "Train to Busan" eksplorasi sifat manusia di "Revelations"
Meskipun setiap format memiliki kesulitannya sendiri, ironisnya hal itu membuat beralih ke format lain terasa lebih menyegarkan, katanya, menambahkan bahwa ia telah mendorong sutradara film komersial lainnya untuk terjun ke proyek beranggaran rendah.
"Saya bahkan tidak bisa membayangkan berhenti. Saya merasa seolah-olah saya menghilangkan stres pekerjaan melalui lebih banyak pekerjaan," katanya.
Sebelumnya, Sutradara Yeon juga sudah membuat film-film sukses seperti "Colony" (2026), "The Ugly" (2025), dan "Train to Busan" (2016).
Baca juga: "Parasyte: The Grey" sajikan adegan aksi manusia melawan parasit
Baca juga: Poster film "Train to Busan 2" resmi dirilis
Penerjemah: Hreeloita Dharma Shanti
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































