Jakarta (ANTARA) - Edukator keuangan Aliyah Nastasya membagikan cara untuk menyiasati uang Tunjangan Hari Raya (THR) agar lebih bermanfaat menjelang tibanya hari lebaran.
“Untuk alokasi THR menurut saya ada porsi-porsi yang juga kita bisa bagi porsinya, alokasinya itu harus ideal,” kata Aliyah dalam konferensi pers di Jakarta, Senin.
Aliyah menekankan dalam melakukan investasi jangka panjang waktu merupakan segalanya. Pengaturan waktu yang baik dapat membantu mengamankan kebutuhan yang menjadi prioritas sejak awal perencanaan.
Baca juga: Purbaya: Aturan THR masih proses, Presiden akan segera umumkan
Dalam konteks THR untuk lebaran, dia menyampaikan hal pertama yang perlu diperhatikan adalah niat untuk menabung dan membaginya sesuai dengan prioritas kebutuhan.
Niat tersebut akan mengukuhkan keinginan untuk merencanakan kebutuhan secara matang, lebih terstruktur serta mengetahui standar hidup yang perlu ditetapkan sebelum berkumpul dengan keluarga di kampung halaman.
“Ini (THR) sebenarnya besar karena seukuran satu bulan gaji, cuma kita kadang setelah terima, setiap lebaran habis saja, kenapa? Karena kita tidak ada niat untuk mengalokasikannya untuk hal yang penting,” kata dia.
Baca juga: Purbaya: THR ASN cair pada pekan pertama Ramadhan
Berikutnya yakni mengalokasikan persentase yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.
Misalnya, pengalokasian dana THR bisa dibagi menjadi 20 persen untuk zakat fitrah, infaq dan utang konsumtif, 20 persen untuk persiapan hidangan lebaran, baju maupun hampers, 30 persen untuk kebutuhan mudik dan transportasi, dan 30 lainnya disimpan sebagai investasi jangka panjang.
Dalam seluruh pembagian itu tiap individu kemudian harus merinci lagi pendanaan yang dibagi menjadi jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang. Hal tersebut dimaksudkan agar seluruh uang yang disusun tidak keluar dari koridor keperuntukannya.
Baca juga: Bupati Kudus imbau ASN berdonasi untuk THR PPPK paruh waktu
Ia menyoroti masalah kumpul keluarga di Indonesia masih menjadi tantangan untuk mengerem pengeluaran yang sebenarnya tidak diperlukan.
“Jadi yang susah di budaya Indonesia menurut aku adalah boundaries, terutama dalam masalah kekeluargaan. Kalau tidak dituruti dibilang tidak berbakti, pelit, padahal kalau kita saling menghormati hak dan kewajiban masing-masing, uang itu adalah hak dari pemilik yang menghasilkannya,” ujar Aliyah.
Dia turut menekankan bahwa perencanaan keuangan juga akan membantu masyarakat untuk memetakan capaian yang ingin diraih dengan mudah sesuai dengan tenggat-tenggat waktu yang telah ditetapkan.
“Semuanya itu enggak bisa didapatkan dalam satu waktu. Ada musimnya masing-masing,” kata dia.
Baca juga: Disnaker Sleman buka Posko THR 2026 layani konsultasi dan aduan
Baca juga: Anggota DPR: Pembayaran THR harus direncanakan dan terstruktur
Pewarta: Hreeloita Dharma Shanti
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































