Setelah 10 kematian, AS pertimbangkan larang airbag ilegal dari China

3 weeks ago 12

Amerika Serikat (ANTARA) - Badan Keselamatan Lalu Lintas Jalan Raya Nasional Amerika Serikat (NHTSA) telah menyimpulkan bahwa beberapa inflator airbag yang diproduksi oleh Jilin Province Detiannuo Safety Technology Co., Ltd (DTN) memiliki cacat yang memengaruhi keselamatan, membuat AS mempertimbangkan larangan penjualan secara permanen. 

Laman Carscoops, Kamis (2/4) waktu setempat melaporkan, kesimpulan ini muncul setelah terjadi 12 kasus ledakan inflator yang mengakibatkan 10 orang meninggal dunia serta dua orang mengalami luka serius.

Adapun inflator airbag merupakan komponen utama dalam sistem airbag mobil yang berfungsi untuk mengembangkan (mengisi) kantung airbag dengan sangat cepat saat terjadi kecelakaan.

Pemerintah setempat menyatakan bahwa airbag tersebut masuk ke Amerika melalui importir yang tidak diketahui, dan kemungkinan besar secara ilegal.

Baca juga: Hyundai Palisade diharuskan hentikan penjualan karena masalah airbag

Meskipun masih ada sejumlah pertanyaan yang belum terjawab, Amerika Serikat kini sedang mempertimbangkan larangan penjualan secara permanen.

Penetapan awal ini merupakan bagian dari proses yang juga membuka periode bagi publik untuk memberikan komentar dan masukan.

Pihak DTN juga diberi kesempatan untuk membantah tuduhan tersebut. Setelah proses ini selesai, NHTSA akan membuat keputusan akhir yang dapat berujung pada pelarangan inflator tersebut—baik yang sudah terpasang dalam airbag maupun yang dijual secara terpisah.

Baca juga: GM tarik ribuan kendaraan akibat masalah pada "airbag"

Pemerintah juga menyebut bahwa “inflator airbag asal China yang tidak memenuhi standar” ini dapat meledak dan menyemburkan serpihan logam besar ke arah dada, leher, mata, dan wajah pengemudi.

Kasus ini sudah diselidiki sejak Oktober tahun lalu, dan NHTSA masih berusaha mengetahui berapa banyak produk tersebut yang telah masuk ke Amerika Serikat.

Semua kejadian yang diketahui sejauh ini terjadi pada kendaraan Chevrolet Malibu atau Hyundai Sonata, namun ada kemungkinan risikonya tidak terbatas pada model tersebut saja.

Baca juga: Audi ingatkan soal 'airbag' pada belasan model di Amerika

Pemerintah sebelumnya juga menyebutkan bahwa banyak kendaraan tersebut memiliki status salvage (bekas rusak berat) atau hasil rekondisi.

Hal ini mengindikasikan bahwa bengkel perbaikan mungkin mencoba menghemat biaya dengan membeli airbag yang meragukan dan kemungkinan diimpor secara ilegal.

Bagaimanapun, dampaknya sangat mematikan, karena pemerintah sebelumnya menyatakan bahwa pengemudi meninggal dalam “kecelakaan yang seharusnya masih bisa diselamatkan”.

Sayangnya, sulit untuk mengetahui jenis inflator apa yang terpasang di dalam kendaraan Anda.

Meski demikian, NHTSA mengimbau pemilik kendaraan bekas untuk memeriksa riwayat kendaraan dan memastikan apakah mobil pernah mengalami kecelakaan.

Jika kendaraan pernah mengalami kecelakaan dan airbag sempat mengembang sejak tahun 2020, maka mobil tersebut harus segera diperiksa “untuk memastikan airbag yang digunakan adalah pengganti yang sah dan setara dengan yang asli”.

Baca juga: 118 ribu lebih Subaru di AS ditarik kembali akibat kerusakan airbag

Jika saat pemeriksaan ditemukan inflator DTN, kendaraan tidak boleh digunakan sampai komponen tersebut diganti. Masyarakat juga dianjurkan untuk melaporkan temuan tersebut ke kantor FBI setempat.

“Penyelidikan awal kami terhadap penggunaan airbag ilegal dari China di bengkel otomotif mengungkap tren yang mengkhawatirkan: komponen di bawah standar ini membunuh keluarga-keluarga di Amerika,” ujar Menteri Transportasi AS, Sean Duffy.

Gugatan hukum sudah diajukan

Melihat banyaknya korban jiwa, tidak mengherankan jika gugatan hukum sudah mulai diajukan. Andrew Parker Felix dari firma hukum Morgan & Morgan telah mengajukan tiga gugatan dan menyatakan bahwa pengakuan NHTSA atas bahaya dari inflator airbag ini adalah langkah awal yang sangat penting untuk mencegah perangkat ilegal dan palsu masuk ke pasar dan digunakan dalam kendaraan.

“Dalam setiap kasus yang kami tinjau, kecelakaan seharusnya masih bisa diselamatkan. Namun, inflator airbag tersebut diduga bertindak seperti granat, mengubah perangkat penyelamat nyawa menjadi hukuman mati,” Felix menambahkan.

Baca juga: Stellantis tarik sekitar 285 ribu mobil di AS akibat masalah airbag

Pewarta:
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026

Read Entire Article
Rakyat news | | | |