Sejumlah WNI rayakan Idul Adha di Beijing meski tanpa potong kurban

2 hours ago 3

Beijing (ANTARA) - Sejumlah Warga Negara Indonesia (WNI) melaksanakan shalat Idul Adha (Id) 1447 Hijriah di Masjid Haidian, Beijing, pada Rabu (27/5) meski tanpa ada pemotongan daging kurban seperti tradisi di Tanah Air.

"Saya shalat di Masjid Haidian karena lokasinya dekat kampus dan jam shalat yang lebih fleksibel untuk saya. Kalau shalat di kedutaan negara lain sudah dimulai satu jam lebih awal dan jaraknya jauh," kata mahasiswi S2 dari Universitas Renmin Fatikha Laras Sinindyas yang ditemui di Masjid Haidian Beijing.

Rangkaian ibadah shalat Idul Adha dimulai pukul 08.00 waktu setempat yang diawali lantunan takbir oleh dua imam dan dilanjutkan dengan pembacaan surat-surat pendek Al-Qur’an. Ada sekitar 200 jamaah dari berbagai negara melaksanakan shalat di masjid tersebut.

Menurut Laras, pelaksanaan shalat Idul Adha di Masjid Haidian yang berlangsung lebih siang memberinya waktu untuk mempersiapkan diri beribadah.

Ia membandingkan dengan pelaksanaan shalat Idul Adha di tempatnya tinggal di Kabupaten Bogor, Jawa Barat yang biasanya dimulai sekitar pukul 06.30 atau 07.00.

Sementara itu, Donny Bagas Kuncoro, mahasiswa S2 di Universitas Sains dan Teknologi Beijing, menceritakan perbedaan rangkaian shalat Idul Adha di Beijing dibandingkan dengan Indonesia.

"Kalau di Indonesia, rangkaian ibadahnya diawali dengan shalat dan diakhiri dengan khotbah. Sementara di sini, ada ceramah sebelum shalat. Tata caranya juga sedikit berbeda, di rakaat pertama takbirnya empat kali, kalau di Indonesia sebanyak tujuh kali,” kata Donny yang sudah dua kali melaksanakan shalat Id di Masjid Haidian.

Di Masjid Haidian, terdapat dua khotbah yang disampaikan dalam dua bahasa.

Khotbah pertama disampaikan dalam bahasa Mandarin sebelum shalat Idul Adha dimulai dan khotbah kedua dalam bahasa Arab setelah salat selesai.

Perbedaan lain terletak pada jumlah takbir dalam shalat Idul Adha, yakni sebanyak tujuh kali, sementara di Indonesia umumnya dilakukan sebanyak 12 kali.

Pada rakaat pertama, takbir dilakukan sebanyak empat kali, sedangkan pada rakaat kedua sebanyak tiga kali, yang dilakukan sebelum posisi rukuk atau membungkuk.

"Pada rakaat kedua, setelah imam membaca surat al-Fatihah dan surat pendek baru dilanjutkan dengan takbir sebanyak tiga kali. Kalau di Indonesia umumnya didahului takbir baru membaca al-Fatihah dan surat pendek," tambah Laras.

Selain itu, tidak ada prosesi pemotongan hewan kurban seperti yang biasa dilakukan di Indonesia, hanya ada meja khusus untuk memberikan sedekah menggunakan "QR code" atau uang tunai.

Suasana Idul Adha 1447 Hijriah di Masjid Haidian, Beijing, pada Rabu (27/5/2026). (ANTARA/Rizki Dwi Wibawa)

Meskipun terdapat sejumlah perbedaan, Laras mengaku nyaman melaksanakan shalat di Masjid Haidian karena pemeriksaan keamanan yang ketat dan panitia yang responsif dalam melayani jamaah.

“Awalnya canggung, tapi ternyata panitia ramah dan keamanannya tinggi. Saya tidak menyangka akan ada pemeriksaan barang bawaan dengan mesin X-ray dan pemeriksaan dengan detektor logam sebelum memasuki masjid," ujarnya.

Baca juga: Muslim di Ningxia, China rayakan Idul Adha

Sebagai jamaah perempuan, Laras juga mengapresiasi panitia yang membantu jamaah perempuan mendapatkan tempat dalam saf di tengah keterbatasan tempat.

"Di masjid ini tidak hanya memfasilitasi jamaah laki-laki, tapi juga perempuan. Panitia akan mengarahkan jamaah lain untuk merapatkan saf sehingga jamaah lain mendapat tempat untuk shalat,” ujarnya.

Setelah rangkaian shalat selesai, panitia membagikan camilan kepada jamaah perempuan seperti coklat dan kurma.

Meskipun jauh dari Tanah Air dan menghadapi sejumlah perbedaan dalam pelaksanaan ibadah, Donny mengaku tetap merasa khusyuk beribadah dan menilai Idul Adha di Masjid Haidian semakin meriah dari tahun ke tahun.

"Shalat di Masjid Haidian bertemu dengan teman-teman Muslim lain dan proses salat masih sama khusyuknya. Dari tahun 2025 sampai 2026 ini, aku merasa shalat di masjid ini juga semakin ramai,” tambahnya.

Ketika ditanya tentang harapannya, Donny dan Laras berharap dapat merayakan Idul Adha dengan keluarga di Indonesia.

“Semoga bisa merayakan Idul Adha berikutnya bersama keluarga dan dikeliling oleh orang-orang baik,” harap Laras.

“Insya Allah ingin shalat Idul Adha di Indonesia karena sudah tiga tahun di China. Rindu merayakan dengan ayah dan Ibu, serta semarak takbir di masjid-masjid di Indonesia,” pungkas Donny.

Baca juga: Di balik Idul Adha tanpa kurban di Masjid Niujie

Pewarta: Desca Lidya Natalia dan Rizki Dwi Wibawa
Editor: Rahmad Nasution
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |