Jakarta (ANTARA) - Menteri Agama (Menag), Nasaruddin Umar menjelaskan esensi dari perayaan Idul Adha tidak sekadar menjalankan ritual ibadah, melainkan momentum saling berbagi, sehingga seluruh lapisan masyarakat dapat merasakan kebahagiaan dan pemenuhan nutrisi yang sama.
"Idul Adha ini sebetulnya identik dengan bulan berbagi. Kita berharap melalui momentum ini, semua orang bisa mencicipi gizi hewani, baik melalui jalur ibadah kurban maupun skema bantuan sosial seperti yang kita lakukan, salah satunya di Masjid Istiqlal ini,” ujar Menag dalam keterangannya di Jakarta, Rabu.
Menag mengatakan dari semangat berbagi itu, tidak semua hewan yang dititipkan di Masjid Istiqlal pada momentum Idul Adha 1447 Hijriah berasal dari umat Islam. Ada tiga kategori, yakni hewan kurban, Dam dan bantuan sosial.
Baca juga: Menag: Idul Adha ajak umat teguhkan semangat keikhlasan dan kepedulian
Menurutnya, semangat berbagi tidak hanya datang dari umat Muslim, tetapi juga masyarakat non-Muslim. Dari puluhan hewan yang diterima Istiqlal, sebagian diantaranya merupakan sumbangan dari masyarakat umum dan institusi keagamaan lain, termasuk Gereja Katedral Jakarta.
"Banyak teman kita yang non-Muslim juga menyerahkan hewan kurban. Bahkan, hampir separuh dari total hewan yang ada berasal dari masyarakat umum yang mungkin niatnya tidak dimasukkan sebagai kurban secara syariat Islam. Kami sangat mengapresiasi toleransi dan kepedulian sosial ini," kata Menag.
Menurutnya, secara hukum Islam, ibadah kurban memang diwajibkan bagi Muslim yang mampu. Namun, fakta bahwa saudara-saudara non-Muslim ikut serta menunjukkan tingginya kesadaran sosial untuk membantu sesama di tengah tingginya permintaan masyarakat terhadap daging kurban.
Guna mengakomodasi berbagai jenis penyerahan tersebut, Menag menjelaskan Istiqlal menerapkan tiga skema pengelolaan. Skema pertama adalah pengelolaan hewan kurban konvensional yang secara syariat memang diniatkan sebagai kurban wajib maupun sunah bagi umat Islam.
Selanjutnya, skema penitipan Dam yang mengakomodasi jamaah haji di Arab Saudi untuk menyalurkan denda atau penebusan mereka di Indonesia, sebuah langkah yang dinilai lebih berdampak nyata bagi masyarakat di tanah air.
Sementara itu, skema ketiga bergerak di jalur bantuan sosial atau Corporate Social Responsibility (CSR) guna menampung kontribusi dari perusahaan maupun individu non-Muslim dalam bentuk sedekah sosial untuk memperkuat ketersediaan kuota daging.
Hingga hari raya ini, Masjid Istiqlal menerima sebanyak 63 ekor sapi, 18 ekor kambing dan seekor domba.
Seluruh hewan tersebut mulai disembelih pada 28 Mei 2026 dan didistribusikan secara akuntabel kepada masjid, mushalla, panti asuhan, majelis taklim, pondok pesantren, madrasah, hingga perguruan tinggi Islam yang berada di bawah binaan atau memiliki relasi dengan Istiqlal.
Baca juga: Masjid Istiqlal jadi model penyelenggaraan kurban di Asia Tenggara
Baca juga: Menko PMK wakili Presiden dan Wapres serahkan sapi kurban ke Istiqlal
"Insya Allah sistem pertanggungjawaban di Istiqlal ini kami lakukan dengan transparan. Nanti kami laporkan kembali kepada para penyumbang sesuai dengan bentuk penyerahan dan niatnya masing-masing," katanya.
Terkait hewan kurban dari pimpinan negara, Menag mengonfirmasi bahwa pihak Masjid Istiqlal menerima penyerahan secara resmi dari Presiden dan Wakil Presiden pada malam takbiran.
Menag berharap perayaan Idul Adha 1447 Hijriah menjadi kesempatan masyarakat untuk dapat menikmati gizi hewani secara merata.
"Kita ingin masyarakat kita di Indonesia ini tersenyum pada saat Idul Adha, merasakan kebersamaan lewat bantuan dari manapun datangnya," kata Menag.
Pewarta: Asep Firmansyah
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































