Jakarta (ANTARA) - Regenerasi kepemimpinan di Nahdlatul Ulama (NU) tidak pernah sekadar soal siapa menggantikan siapa. Di dalamnya selalu ada pergulatan gagasan, kekhawatiran, harapan, dan doa agar jam’iyyah ini tetap tegak menjaga warisan para muassis (pendiri).
Setiap kali momentum itu datang, warga NU bukan hanya memilih figur, tetapi sedang menentukan arah perjalanan moral dan sosial organisasi yang telah memasuki abad keduanya ini.
Dalam percakapan yang berkembang, nama K.H. Ma’ruf Amin kembali disebut-sebut. Hal ini tentu bukan tanpa alasan.
Ia dikenal luas sebagai kiai yang matang dalam tradisi keilmuan klasik, sekaligus memiliki pengalaman panjang dalam ruang publik kenegaraan.
Sebagai bagian dari tradisi pesantren, penulis memahami betul betapa pentingnya kedalaman tafaqquh fiddin bagi seorang pemimpin keagamaan.
Kiai Ma’ruf tumbuh dalam lingkungan yang menempatkan ilmu sebagai kehormatan tertinggi.
Sanad keilmuannya tersambung kepada ulama besar seperti Syaikh Nawawi Al-Bantani, yang kitab-kitabnya hingga kini masih menjadi rujukan utama di pesantren.
Bagi warga NU, kesinambungan sanad bukan sekadar simbol sejarah, melainkan jaminan bahwa otoritas keilmuan berdiri di atas fondasi yang kokoh.
Namun, zaman terus bergerak. Tantangan yang dihadapi NU hari ini berbeda dengan dekade-dekade sebelumnya.
Organisasi ini tidak hanya mengelola pendidikan dan dakwah, tetapi juga bersentuhan dengan isu ekonomi umat, transformasi digital, dan dinamika global.
Dalam konteks inilah muncul kebutuhan akan figur yang bukan hanya alim secara teks, tetapi juga memahami tata kelola modern.
Baca juga: Muktamar ke-35 NU dan Harapan Baru Para Nahdliyin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































