Relawan salurkan seragam ke siswa terdampak banjir di daerah terisolir

1 day ago 6

Aceh Timur, Aceh (ANTARA) - Relawan Atjeh Connection Foundation menyalurkan seragam kepada siswa SDN Ranto Panyang Rubek, Kabupaten Aceh Timur, Aceh, yang terdampak banjir bandang pada akhir November 2025.

“Hari ini kegiatannya kita memanggil anak-anak berkumpul kemari, membagikan donasi dari Atjeh Connection, yaitu beberapa baju seragam,” ujar guru SDN Ranto Panyang Rubek Kabupaten Aceh Timur Rahmat Syah yang ditemui di Sekolah Darurat SDN Ranto Panyang Rubek di Pante Bidari, Kabupaten Aceh Timur, Sabtu.

Jumlah baju seragam sekolah yang dibagikan saat itu 34 set, sesuai dengan jumlah siswa bersekolah di SDN Ranto Panyang Rubek. Tenaga pengajar di Sekolah Darurat SDN Ranto Panyang Rubek berjumlah 10 orang.

Untuk mengakses SDN Ranto Panyang Rubek dari jalan utama, seseorang harus menembus perkebunan sawit dan jalan yang masih berselimut lumpur dengan durasi perjalanan kurang lebih dua jam.

Baca juga: Masyarakat Pidie Jaya berbuka puasa bersama di meunasah darurat Baznas

Jalan berselimut lumpur yang dilalui pun bukanlah jalan datar, melainkan dipenuhi tanjakan terjal dan turunan berkelok.

Kondisi jalan yang basah, terutama setelah diguyur hujan, rawan membuat kendaraan tergelincir.

Oleh karena itu, untuk mengakses SDN Ranto Panyang Rubek dibutuhkan kendaraan dengan spesifikasi tertentu, terlebih untuk mendukung perjalanan di luar jalur utama atau off-road.

Perjalanan secara ekstrem yang harus ditempuh menyebabkan kawasan tersebut terisolasi dari bantuan-bantuan yang dibutuhkan pasca-bencana.

“Kesulitan yang kami alami, masalah kegiatan proses belajar mengajar ini, banyak kekurangan (fasilitas). Tempatnya, buku paketnya masih terbatas, maka kami sebagai dewan guru masih sulit untuk memberikan pelajaran tanpa pedoman,” ujar Rahmat.

Sebagian besar bantuan yang kini dinikmati Dusun Ranto Panyang Rubek, tempat sekolah darurat tersebut bernaung, berasal dari relawan.

SDN Ranto Panyang Rubek ludes tersapu banjir yang melanda Aceh pada November 2025. Puing-puing bangunan tersisa di pinggir sungai, bahkan separuh telah menyatu dengan sungai.

Para siswa yang terdampak bencana itu, tinggal di gubuk-gubuk hunian sementara yang dibangun di kebun masing-masing.

Selain itu, terdapat anak-anak yang tinggal di tenda-tenda BNPB.

“Alhamdulillah anak-anak tetap semangat. Walaupun istilahnya tenda darurat, tetapi karena banyak donasi, yang memberikan bantuan, semangat anak semakin lama semakin tinggi,” ujar Rahmat.

Baca juga: Ikan bilih yang melahirkan sarjana dari pinggiran Danau Singkarak

Baca juga: Warga Desa Sibio-bio Tapteng masih terisolir akibat jembatan putus

Pewarta: Putu Indah Savitri
Editor: M. Hari Atmoko
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |