Jakarta (ANTARA) - Bidan dan doula pendiri Bumilpamil Jamilatus Sa’diyah menyampaikan strategi memompa ASI yang bisa diterapkan oleh ibu-ibu menyusui untuk memenuhi kebutuhan si kecil selama menunaikan ibadah puasa Ramadhan.
"Waktu yang sering terasa optimal adalah setelah sahur, siang hari, menjelang berbuka, dan malam hari sebelum tidur," kata Jamila kepada ANTARA di Jakarta pada Rabu.
Lulusan Poltekkes Kemenkes Jakarta 3 itu menyampaikan bahwa pada prinsipnya kebutuhan energi dan cairan ibu harus dipenuhi, ibu mesti cukup istirahat serta merasa aman dan rileks, dan payudara harus sering dikosongkan agar produksi ASI tetap lancar saat berpuasa.
Guna mengosongkan payudara, selain menyusui bayi secara langsung ibu menyusui bisa memompa ASI secara konsisten.
Ibu menyusui disarankan memompa ASI setiap dua sampai tiga jam sekali atau delapan sampai 12 kali dalam sehari kalau bayinya lebih kecil.
Agar pengosongan payudara optimal, Jamila mengingatkan ibu menyusui untuk memastikan corong pompa ASI sesuai dengan ukuran payudara.
Baca juga: Kiat jaga produksi ASI selama berpuasa bagi ibu menyusui
Jamila menyarankan penerapan teknik kompresi payudara dalam memompa ASI, yakni dengan meremas payudara secara lembut menggunakan tangan untuk merangsang refleks pengeluaran ASI serta memijat ringan payudara sebelum dan saat memompa untuk menstimulasi sekresi oksitosin.
"Stimulasi oksitosin kondisi rileks, lingkungan nyaman, melihat foto atau video bayi, skin-to-skin contact saat DBF (menyusui langsung), serta sentuhan atau pijat ringan dapat membantu refleks pengeluaran ASI," katanya.
Dia menyampaikan bahwa produksi ASI ibu setelah pemompaan sangat dipengaruhi oleh status cairan tubuh ibu, jadi penting untuk memastikan kebutuhan cairan ibu terpenuhi dengan segera minum saat berbuka dan sahur.
Selain memompa ASI, menurut dia, ibu tetap harus menyusui bayi secara langsung sesuai dengan permintaan bayi.
Ia menambahkan, menyusui pada malam hari dan menjelang sahur bisa membantu menjaga produksi ASI selama ibu berpuasa.
Baca juga: Tips memilih pompa ASI untuk ibu menyusui
Jamila menyarankan ibu menyusui untuk mempertimbangkan membatalkan puasa dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan jika mengalami tanda-tanda dehidrasi seperti urine berwarna sangat pekat, jarang buang air kecil, kepala pusing, sakit kepala hebat, dan tubuh lemas.
Ibu menyusui juga disarankan untuk segera membatalkan puasa kalau mengalami penurunan berat badan drastis atau mengalami tanda-tanda hipoglikemia seperti tubuh gemetar dan berkeringat dingin.
Penurunan kondisi ibu selama berpuasa bisa berdampak pada bayi. Akibatnya, bayi jadi tampak tidak puas saat menyusu, bayi rewel terus, bibir bayi kering, dan frekuensi buang air kecil bayi menurun menjadi kurang dari enam kali ganti popok basah per hari.
"Dalam prinsip kesehatan ibu dan anak, keselamatan ibu dan kecukupan nutrisi bayi adalah prioritas utama. Dalam Islam pun terdapat keringanan bagi ibu menyusui untuk tidak berpuasa bila dikhawatirkan berdampak pada dirinya atau bayinya," kata Jamila.
Baca juga: Dukungan konselor laktasi perlu disediakan di tempat kerja
Baca juga: Dokter tekankan pentingnya pemenuhan gizi ibu untuk optimalkan ASI
Pewarta: Fitra Ashari
Editor: Maryati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































