Blora (ANTARA) - Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Blora, Jawa Tengah, melakukan penanganan darurat fenomena tanah gerak dengan pemasangan talud bronjong di bibir Sungai Lusi yang saat ini hampir selesai.
"Progres pemasangan talud bronjong di bibir Sungai Lusi sudah mencapai 90 persen," kata Kepala Bidang Sumber Daya Air DPUPR Blora Surat, di Blora, Kamis.
Berdasarkan kajian sementara, kata dia, penyebab utama tanah gerak diduga karena sistem drainase lingkungan yang belum terhubung langsung ke sungai sehingga air meresap dan membuat tanah menjadi jenuh.
Ia mengungkapkan Dinas PUPR Blora bersama tim BBWS Pemali Juana juga masih melakukan pengkajian lanjutan. Namun, pihaknya belum dapat memastikan kapan pergerakan tanah akan berhenti.
"Kita lihat perkembangannya, ini masih dinamis. Kalau belum berhenti, nanti kita ambil langkah teknis lainnya," ujar dia.
Fenomena tanah ambles di Desa Buluroto, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora masih terus berlangsung dan semakin mendekati permukiman warga. Rekahan tanah yang memanjang dilaporkan telah melintasi sembilan rumah, tiga di antaranya mengalami kerusakan.
Baca juga: Tanah bergerak di Blora meluas, rekahan baru mendekati pemukiman
Sejumlah rumah warga yang terdampak, memperlihatkan kedalaman tanah ambles mencapai 2 meter dari permukaan awal. Pergerakan tanah disebut semakin aktif saat hujan dengan intensitas tinggi.
Sembilan rumah yang dilintasi fenomena rekahan tanah, masing-masing milik Sriyono, Sriutajah, Takin, Peny, Sayid, Warni, Masdukin, Suwati, dan Dul. Adapun rumah yang mengalami kerusakan milik Sriyono, Peny, dan Sayid.
Sriyono mengaku telah menggeser rumahnya sejauh tiga meter pada Desember 2025 ke lokasi yang dinilai lebih aman. Namun, pergerakan tanah masih terjadi.
"Saat ini masih bergerak. Saya mempertahankan rumah dengan tanah uruk dan ganjal rumah. Beli dua rit dan dapat bantuan dua rit," ujarnya.
Ia menyebut fenomena tanah ambles sudah terjadi sekitar enam bulan terakhir. Bahkan pada Oktober 2025, pihaknya harus mendongkrak rumahnya setiap dua hari sekali untuk menjaga kestabilan bangunan.
Sementara itu, Peny mengatakan kondisi terparah terjadi pada awal Februari 2026. Dia menghabiskan enam rit tanah uruk untuk menahan amblesan dan masih memesan tambahan.
"Kedalamannya sudah sekitar 2 meter. Untungnya kamar mandi masih berfungsi normal," ujarnya.
Baca juga: BBWS tinjau lokasi tanah gerak di Blora, tanah turun hingga 30 cm
Warga lainnya, Masdukin memasang turap bambu sebagai langkah darurat karena jarak rekahan kini tinggal sekitar dua meter dari rumahnya. Ketika hujan deras tanah bisa turun hingga 10 sentimeter dalam sehari.
Pewarta: Akhmad Nazaruddin
Editor: Bambang Sutopo Hadi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































