Puasa Ramadhan dan konsumsi berkelanjutan

5 days ago 4

Jakarta (ANTARA) - Salah satu momen yang amat sakral dan khidmat bagi masyarakat Indonesia adalah momen puasa Ramadhan.

Momen yang akan berlangsung sebulan penuh ini bukan sekadar menahan lapar dan dahaga karena berpuasa, tetapi juga mengusung aktivitas lain yang berdimensi spiritualitas tinggi.

Di sisi yang lain, selama Ramadhan dan klimaksnya adalah perayaan Idul Fitri, aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat juga meningkat tajam, ditandai dengan permintaan komoditas bahan pangan untuk berbuka puasa, santap sahur, dan juga persiapan hari raya.

Oleh sebab itu, masyarakat selama momen Ramadhan mesti mengadaptasi berbagai aktivitas yang berdimensi berkelanjutan, baik dari sisi kesehatan, ekonomi dan finansial, plus keberlanjutan dari sisi sosial dan lingkungan. Ada beberapa isu krusial dalam hal ini.

Pertama, masyarakat seyogyanya berkonsumsi secara wajar sesuai kebutuhan, tidak perlu menimbun, apalagi panic buying. Sebab jika masyarakat melakukan berbagai anomali dalam berkonsumsi, justru akan mendistorsi pasar, yang ditandai dengan kenaikan harga, inflasi yang tinggi, bahkan bisa memicu kelangkaan barang di pasaran, khususnya untuk komoditas kebutuhan pokok.

Kedua, sebagaimana titah spiritualitas puasa agar kita sehat, maka seyogyanya perilaku berkonsumsi makanan/minuman yang menjadi asupan utama; mesti berdimensi makanan/minuman yang bergizi seimbang.

Dalam konteks ini, bukan hanya makanan/minuman yang tidak kedaluwarsa saja, tetapi musti mengadaptasi makanan/minuman yang rendah kandungan GGL (gula, garam, dan lemak). Apalagi ketika momen buka puasa (iftar) karakter lambung dan pencernaan kita belum siap jika "dihantam" dengan makanan/minuman yang tinggi GGL tersebut.

Tren pola konsumsi selama puasa Ramadhan, mengulang fenomena yang paradoks, tersebab berbasis serba digoreng, dan serba manis.

Ketiga, puasa Ramadhan adalah momen yang sangat tepat untuk berhenti merokok. Memang berhenti merokok itu sulit, karena tembakau dalam rokok mengandung nikotin yang sangat adiktif. Namun, terbukti selama puasa Ramadhan selama 13 jam, bisa stop merokok. Jadi pokok persoalannya untuk berhenti merokok adalah faktor niat. Jangan malah sebaliknya, selepas iftar malah langsung ngebul alias menjadi "ahli hisap" kembali.

Fenomena merokok di Indonesia kini sangat mengkhawatirkan, sebab 32 persen penduduk Indonesia telah tersandera adiksi nikotin. Puasa Ramadhan adalah kesempatan emas bagi perokok untuk stop merokok.

Keempat, masyarakat juga mesti mewaspadai fenomena makanan/minuman yang mengandung zat-zat berbahaya, seperti metanil yellow alias pewarna tekstil, formalin, boraks, dan zat zat terlarang lainnya, yang bukan jenis BTP (Bahan Tambahan Pangan). Semasa puasa Ramadhan, fenomena ini cukup marak, seiring dengan tingginya permintaan, khususnya untuk keperluan buka puasa. Sementara, saat jelang Idul Fitri, mesti diwaspadai kasus makanan parsel yang sudah kedaluwarsa.

Kelima

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |