Jakarta (ANTARA) - Puasa selalu dimaknai sebagai latihan pengendalian diri, ruang refleksi, dan momentum untuk menata kembali hubungan manusia dengan Sang Pencipta maupun sesamanya.
Namun, ketika masyarakat bergerak memasuki era digital yang semakin cepat dan terhubung, pengalaman berpuasa menghadapi babak baru. Ledakan penggunaan telekomunikasi, penetrasi internet yang kian masif, serta budaya informasi instan membuat praktik spiritual yang bersifat kontemplatif ini masuk ke ruang yang jauh lebih ramai dan penuh distraksi.
Dalam masyarakat modern, gawai seolah menjadi perpanjangan tangan manusia. Notifikasi datang tak henti, sementara media sosial berlomba-lomba menampilkan banjir informasi, hiburan, hingga dinamika sosial yang bisa menguras emosi.
Ali Gomaa, mantan Grand Mufti Mesir, dalam beberapa kesempatan mengingatkan bahwa puasa masa kini seharusnya tidak berhenti pada penahanan makan dan minum saja. Menurutnya, puasa perlu diperluas ke dalam bentuk “puasa indera digital”, yakni menahan diri dari konsumsi konten yang merusak kesehatan mental dan spiritual. Pesan ini relevan di tengah masyarakat yang semakin sulit melepaskan diri dari telepon pintar.
Pandangan tersebut sejalan dengan pemikiran Cal Newport dalam bukunya Digital Minimalism. Newport menjelaskan bahwa teknologi digital modern dirancang untuk memaksimalkan perhatian, bahkan hingga membuat seseorang kehilangan kendali terhadap waktu dan fokusnya.
Ia tidak membahas konteks ibadah, tetapi gagasan tentang hidup yang lebih sadar dan tidak reaktif sangat sesuai dengan nilai-nilai yang ditekankan dalam berpuasa. Ketika seseorang berpuasa, ia diajak kembali pada inti dari kesadaran diri, sementara dunia digital sering kali menjerumuskan manusia pada pola konsumsi tanpa jeda.
Namun, perkembangan telekomunikasi tidak semata-mata menghadirkan tantangan. Pada saat yang sama, teknologi telah membuka ruang baru bagi umat untuk menjalankan ibadah dengan lebih mudah.
Aplikasi pengingat waktu sahur dan berbuka, pembelajaran Al-Qur'an digital, hingga layanan sedekah daring menjadi bagian dari kehidupan keagamaan masa kini. Buku Digital Religion karya Heidi Campbell menegaskan bahwa teknologi mampu memperluas praktik keagamaan ke ruang daring tanpa menghilangkan esensi ajarannya. Pengalaman spiritual tetap dapat dipertahankan, meski medianya berubah.
Dakwah digital
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































