Surabaya (ANTARA) - Ketua Komisi C Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Surabaya Eri Irawan mengawal pelaksanaan program “Dandan Kampung” yang dijalankan Pemerintah Kota Surabaya sebagai strategi penataan kawasan permukiman berbasis partisipasi masyarakat.
“Program Dandan Kampung tidak hanya mempercantik kawasan, tetapi juga mendorong partisipasi aktif warga agar tercipta lingkungan yang lebih layak huni, berdaya, dan memiliki karakter,” kata Eri Irawan di Surabaya, Kamis.
Ia menjelaskan, program tersebut dilaksanakan melalui kolaborasi antara Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman serta Pertanahan (DPRKPP) Surabaya, perguruan tinggi, organisasi non-pemerintah, serta komunitas warga.
Baca juga: Wakil Ketua DPRD Surabaya dorong penguatan kampung madani
Fokus program meliputi peningkatan kualitas hunian, optimalisasi ruang publik, penguatan identitas kawasan, serta penciptaan lingkungan yang berkelanjutan.
Sejumlah kampung yang menjadi lokasi program antara lain Kampung Dinoyo, Kampung Keputran, Kampung Lawas Maspati, Kampung Semanggi, Kampung Pecinan, dan Kampung Ketandan.
Eri mengatakan, keterlibatan berbagai pihak, termasuk mahasiswa lintas disiplin, menjadi salah satu kekuatan dalam penyusunan konsep penataan kampung. Selain itu, warga juga dilibatkan melalui forum diskusi di tingkat lingkungan.
“Saya melihat kolaborasi yang baik antara mahasiswa, pemerintah, dan masyarakat dalam merancang penataan kawasan,” ujarnya.
Baca juga: Pemkot Surabaya kembangkan 35 kampung tematik tarik wisata
Dari sisi tata kota, program tersebut dinilai berkontribusi dalam mengurangi kawasan kumuh, meningkatkan kualitas lingkungan, serta memperkuat keteraturan ruang kota.
Selain itu, penataan kampung juga berdampak pada peningkatan nilai aset warga serta membuka peluang pengembangan usaha berbasis rumah tangga, termasuk sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Menurut Eri, program “Dandan Kampung” mencerminkan pendekatan pembangunan berbasis komunitas yang dapat menjadi praktik baik dalam perencanaan kota berkelanjutan.
“Program ini menunjukkan adanya pergeseran dalam cara pandang terhadap permukiman rakyat menjadi lebih inklusif dan berkelanjutan,” katanya.
Baca juga: Pengajian kampung di Surabaya harus terus dilestarikan
Pewarta: Indra Setiawan
Editor: Abdul Hakim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































