Jakarta (ANTARA) - Konsultan senior onkologi medis dari Parkway Cancer Centre (PCC) Dr. Tanujaa Rajasekaran mengatakan kanker paru-paru adalah kanker paling umum kedua pada pria maupun wanita meskipun bukan perokok aktif.
“Jadi di antara laki-laki, kanker paru-paru jadi kasus nomor satu, tapi pada wanita, itu ranking terbanyak nomor lima. Dan kalau disatukan antara laki-laki dan perempuan, kanker paru ada di nomor dua, jadi di semua populasi kejadian paling umum kanker paru-paru,” kata Tanujaa dalam acara media briefing bertajuk “Pergeseran Demografi Kanker di Indonesia: Kanker Paru pada Usia Produktif” di Jakarta, Kamis.
Ia mengatakan sekitar 10 persen pasien perokok pria maupun wanita dapat mengidap kanker paru-paru sel kecil, sementara 90 persen lainnya terkena kanker paru-paru non-sel kecil yang sering terjadi pada non-perokok.
Baca juga: Ilmuwan: dinamika interaksi sel kanker paru prediksi respon pengobatan
Baca juga: Dokter tekankan pentingnya deteksi dini cegah kanker paru
Ia mengatakan sampai saat ini para peneliti masih mencari tahu penyebab kanker paru pada non perokok, dimana abnormalitas dari mutasi sel dapat berkembang menjadi mutasi gen kanker paru-paru tanpa terkendali.
Tanujaa mengatakan semakin bertambahnya usia juga bisa menjadi faktor mutasi sel tidak bisa bekerja maksimal, ditambah adanya faktor lingkungan yang dapat meningkatkan risiko kanker paru
Berbeda dengan kanker lainnya seperti kanker prostat, kanker payudara atau kanker usus besar, kanker paru memiliki angka kematian yang cukup tinggi karena seringkali terdiagnosis dalam stadium akhir. Hal ini karena kebanyakan pasien kanker paru-paru tidak menunjukkan gejala yang jelas.
“Berbeda dengan kanker paru-paru, itu biasanya terjadi di stadium yang sudah akhir, yang sudah lanjut begitu gejala timbul dan banyak yang sudah metastasis artinya sudah menyebar di organ tubuh lainnya, dan semakin lama kanker paru terdeteksi semakin rendah harapan hidupnya,” kata Tanujaa.
Baca juga: 1 dari 5 penderita kanker paru-paru di seluruh dunia bukan perokok
Tanujaa menjelaskan gejala yang umum dari kanker paru-paru antara lain mudah lelah, sakit dada, batuk tidak berhenti atau berkepanjangan, dan berat badan yang turun tanpa alasan jelas.
Pada stadium awal gejala tersebut tidak terasa namun seiring waktu ketika gejala terasa maka saat itu juga sudah memasuki stadium tiga sampai empat.
Maka itu diperlukan upaya deteksi dini bagi yang memiliki riwayat orang tua terkena kanker paru atau jika merasakan gejala mudah lelah dan batuk berkepanjangan dengan melakukan CT Scan dosis rendah yang mengurangi angka kematian kanker paru sebanyak 20 persen.
“Ketika kita screening untuk deteksi dini, ketika di deteksi di kita punya kanker stadium 1, itu harapan hidupnya bisa sampai 90 persen lebih. Bandingkan ketika kita sudah mencapai di stadium 4, itu turun jauh menjadi hanya sekitar 20 persen,” katanya.
Baca juga: Imunoterapi jadi pilihan pengobatan kanker paru untuk usia produktif
Baca juga: Dokter: Usia pasien kanker paru di Indonesia 10 tahun lebih muda
Baca juga: Teknologi AI dukung skrining dan diagnosis kanker paru
Pewarta: Fitra Ashari
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































