Jakarta (ANTARA) - Pemerintah Indonesia menyiapkan rencana penerbitan "Panda Bonds" di China untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah melalui diversifikasi sumber pembiayaan internasional.
“Untuk memperkuat nilai tukar, kami juga akan menerbitkan 'Panda Bonds' di China dengan bunga yang lebih rendah sehingga kita tidak tergantung terlalu banyak ke dolar lagi. Jadi, diversifikasi kita, akan lebih baik lagi ke depan,” kata Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam keterangan resmi dari Biro Pers, Media dan Informasi (BPMI) Sekretariat Presiden di Jakarta, Rabu.
Purbaya menjelaskan bahwa langkah diversifikasi ini bertujuan agar ketergantungan Indonesia terhadap dolar Amerika Serikat dapat dikurangi.
Penerbitan instrumen utang di pasar China tersebut juga akan menguntungkan karena menawarkan tingkat bunga yang lebih kompetitif bagi pemerintah.
Strategi penguatan nilai tukar ini merupakan hasil pembahasan dalam rapat terbatas antara Presiden Prabowo Subianto bersama sejumlah menteri Kabinet Merah Putih dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).
Baca juga: Bertemu Prabowo, Gubernur BI beberkan tujuh strategi perkuat rupiah
Fokus utama pertemuan tersebut adalah menjaga momentum pertumbuhan ekonomi yang tengah terakselerasi.
Selain penguatan rupiah, pemerintah juga menyebut capaian pertumbuhan ekonomi nasional yang melonjak menjadi 5,61 persen. Angka ini menunjukkan kenaikan signifikan jika dibandingkan dengan capaian periode sebelumnya yang berada di level 5,39 persen.
“Angka pertumbuhan ekonomi tadi yang keluar hari ini 5,61, itu kita diskusikan dengan Bapak Presiden bahwa kita memang sudah bisa membalik arah ekonomi. Jadi, ekonomi kita sedang mengalami akselerasi,” ujar Purbaya.
Purbaya mengungkapkan bahwa kenaikan angka pertumbuhan tersebut menjadi sinyal positif bahwa arah ekonomi nasional mulai berbalik menuju fase ekspansi yang lebih kuat.
Tren ini mencerminkan efektivitas kebijakan pemerintah dalam mendorong pemulihan sekaligus mempercepat laju pertumbuhan ekonomi.
Baca juga: BI akan turunkan batas pembelian USD tanpa underlying jadi 25 ribu dolar AS
Guna menjaga momentum tersebut pada triwulan kedua 2026, katanya, pemerintah berencana mengumumkan stimulus tambahan bagi perekonomian dalam waktu dekat.
Stimulus ini direncanakan mulai diimplementasikan pada awal Juni mendatang untuk mendorong aktivitas ekonomi masyarakat.
“Akan kita jaga untuk triwulan kedua dengan berbagai kebijakan, koordinasi dengan Bank Sentral juga menjaga kondisi likuiditas dan juga kita akan memberikan stimulus tambahan ke perekonomian yang tidak lama lagi akan diumumkan, mungkin satu Juni akan mulai jalan,” kata dia.
Pewarta: Aditya Ramadhan
Editor: Edy Sujatmiko
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































