Periksa urine disarankan bantu deteksi dini peradangan ginjal

5 hours ago 3

Jakarta (ANTARA) - Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PB Pernefri) Dr. dr. Pringgodigdo Nugroho, Sp.PD-KGH menyarankan pentingnya periksa urine atau air kencing terutama usia muda, untuk mendeteksi dini peradangan ginjal atau glomerulonefritis.

Dalam temu media di Jakarta, Rabu (11/3), Pringgodigdo mengatakan radang ginjal menjadi penyakit yang sering terjadi pada usia muda. Penyakit ini sering kali di awal tidak menimbulkan gejala, namun biasanya dapat ditemukan melalui pemeriksaan urine.

“Yang di muda-muda udah gagal ginjal kebanyakan itu karena penyakit ini peradangan ginjal, karena enggak pernah periksa urine. Bisa diketahuinya hanya dengan pemeriksaan, karena enggak ada gejala,” tutur Pringgodigdo.

Pringgodigdo mengatakan bahwa di urine terdapat sel darah merah (eritrosit) atau ada albumin yang harusnya negatif. Salah satu tanda yang kerap diabaikan adalah urine yang sudah berbusa.

Pada kondisi urine atau air kencing yang sudah berbusa itu bisa menunjukkan adanya kebocoran albumin dalam urine dengan kadar yang cukup tinggi.

“Kalau udah berbusa, berwarna, itu udah tinggi berarti tuh (kadar kebocorannya). Biasanya berwarna kemerahan itu karena ada darah. Darah bisa dari ginjalnya atau dari salurannya. Kalau dari ginjalnya tadi karena peradangannya,” kata dia.

Dokter yang menamatkan pendidikan Spesialis Penyakit Dalam di Universitas Indonesia itu menekankan pentingnya gaya hidup sehat dan melakukan pemeriksaan kesehatan guna mencegah penyakit ginjal.

“Kalau enggak ada gejala ya paling enggak setahun sekali gitu diperiksa,” imbuh dia.

Lebih lanjut, Pringgodigdo menambahkan pentingnya memperhatikan pola makan terutama generasi muda dalam mencegah penyakit ginjal.

Ia mengatakan salah satu faktor risiko penyakit ginjal adalah tingginya konsumsi makanan yang dapat memicu obesitas.

“Itu harus dihindari. Misalnya mengonsumsi yang manis-manis kan kalorinya tinggi. Nanti secara tidak langsung bisa melalui diabetes juga bisa,” kata dia.

Konsumsi makanan instan yang tinggi garam dapat memicu hipertensi atau tekanan darah tinggi yang berlangsung lama, di mana bisa menjadi salah satu faktor risiko terjadinya penyakit ginjal.

Selain pola makan, gaya hidup sedentary atau kurang aktivitas fisik juga memicu risiko penyakit ginjal.

“Sekarang ke mana-mana yang deket harus naik motor padahal kan bisa jalan kaki. Jalan itu kan membantu membakar kalori,” imbuh dia.

Baca juga: Mencegah gagal ginjal bantu selamatkan lingkungan

Pewarta: Sri Dewi Larasati
Editor: Irwan Suhirwandi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |