Tapsel, Sumatera Utara (ANTARA) - Banjir bandang di Desa Garoga dan Huta Godang, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, sudah terjadi hampir tiga bulan lalu, tapi rasa trauma akibat peristiwa bencana alam itu masih terngiang.
Setiap hujan datang, warga merasa was-was dan cemas. Perasaan itu masih terus muncul dan sangat membekas bagi para penyintas.
Jeritan dan tangisan serta teriakan minta tolong masih terngiang-ngiang. Bencana kali ini menjadi yang pertama dan terdahsyat, bahkan desa yang dahulu asri kini porak-poranda diterjang banjir bandang.
Meski sudah hampir tiga bulan lamanya, sisa-sisa material yang terbawa seperti kayu, lumpur dan bebatuan masih tampak.
Desa Garoga dan Huta Godang, Kecamatan Batang Toru, menjadi dua daerah yang paling terdampak. Rumah-rumah yang dahulu berdiri tegak, sekarang luluh lantak.
Bencana yang terjadi memang memberikan dampak bagi para penyintasnya. Namun, kini mereka perlahan bangkit untuk lebih baik lagi dan lebih kuat.
Penyintas bencana banjir bandang berjualan di lokasi bencana Tapanuli Selatan, Selasa (17/2/2026). ANTARA/Khaerul IzanSeperti yang dilakukan seorang penyintas bencana banjir bandang di Desa Huta Godang, Monang dan keluarga yang kini membuka warung untuk berjualan dan beraktivitas agar bisa menghilangkan trauma yang masih belum sirna.
Keluarga yang dahulu bekerja sebagai petani, kini mencoba peruntukan dengan berjualan. Mereka menyediakan makanan, minuman dan jajanan, untuk warga dan tentara yang sedang bertugas di lapangan.
"Kalau mau bertani, lahannya sudah tertimbun lumpur. Jadi kami memilih berdagang," kata Monang kepada ANTARA.
Baca juga: Penyintas banjir di Tapsel Shalat Tarawih di masjid yang terdampak
Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































