Jakarta (ANTARA) - Pengamat sepak bola Indonesia Mohamad Kusnaeni berpendapat pemain-pemain diaspora yang ramai bergabung ke klub-klub di Liga Indonesia merupakan proses yang alamiah untuk meningkatkan menit bermain.
"Saya melihat ini proses yang alamiah ya, artinya pemain-pemain yang pindah (ke klub-klub Liga Indonesia) itu kan umumnya yang tidak mampu bersaing di negara lain, di level klub yang tinggi," kata Mohamad Kusnaeni ketika dihubungi di Jakarta, Selasa.
Dia menyampaikan hal itu menanggapi pertanyaan seputar sejumlah pemain berdarah Indonesia atau diaspora yang memutuskan bergabung dengan klub-klub di Liga Indonesia.
Sejak awal musim 2025, terdapat lima pemain diaspora yang memutuskan untuk bergabung dengan klub-klub di Liga Indonesia seperti Jordi Amat dari Johor Darul Ta'zim (Malaysia) ke Persija Jakarta, Rafael Struick dari Brisbane Roar (Australia) ke Dewa United, Jens Raven dari FC Dordrecht (Belanda) ke Bali United, serta Thom Haye dari Almere City dan Eliano Reijnders dari PEC Zwolle (Belanda) ke Persib Bandung.
Pada pertengahan musim, Shayne Pattynama dari Buriram United (Thailand) bergabung dengan Persija dan Dion Markx dari TOP Oss (Belanda) ke Persib.
Terbaru, penyerang FC Volendam di Eredivisie 2025/2026 atau kasta teratas Liga Belanda, Mauro Zijlstra, telah sepakat dengan kontrak dua setengah tahun bersama Persija serta Ivar Jenner yang meninggalkan FC Utrecht untuk berlabuh di Dewa United.
Baca juga: Persija rekrut penyerang muda Mauro Zijlstra untuk pertajam llni depan
Baca juga: Ivar Jenner resmi bergabung dengan klub Indonesia Dewa United
Kusnaeni mengatakan bahwa umumnya para pemain diaspora tersebut selama ini kesulitan mendapatkan tempat di tim utama sehingga keputusan untuk beralih ke Indonesia merupakan bagian dari upaya mempertahankan kinerja atau performa mereka.
Menurutnya, mereka dihadapkan pada pilihan untuk tetap bermain di Eropa atau negara lain tetapi tidak mendapatkan menit bermain yang cukup atau mencoba bereksperimen di tempat yang baru yang kemungkinan bukan merupakan zona nyaman tetapi ada kesempatan lebih besar menambah menit bermain.
"Karena pemain itu kalau kelamaan tidak bermain, hanya duduk di bangku cadangan itu kemampuannya menurun," katanya.
Lebih lanjut, Kusnaeni pun membedakan para pemain diaspora yang berlabuh di klub-klub Indonesia yaitu pemain yang sudah melewati masa produktif atau usia emas seperti Jordi Amat (33 tahun) dan Shayne Pattinama, Thom Haye, dan pemain yang belum mencapai usia emas seperti Jens Raven (20 tahun), Mauro Zijlstra (21 tahun).
Para pemain yang masih muda, kata dia, sedang dalam proses memulai karier di level profesional namun juga kesulitan mendapatkan tempat di klub sebelumnya, sehingga berpindah ke Indonesia bisa menjadi "batu loncatan" untuk karir mereka.
"Jadi mereka bisa menambah menit bermain, meningkatkan performa mereka supaya bisa bermain atau bersaing di Eropa atau tempat lain," katanya.
Kusnaeni mengakui perpindahan para pemain diaspora yang ramai memunculkan anggapan sebagian orang bahwa langkah tersebut justru terbalik dengan tujuan pemain-pemain Indonesia untuk bisa bermain di luar, terutama di Eropa.
Namun, setiap pemain membutuhkan kesempatan untuk berkembang. "Para pemain diaspora yang masih muda kalau bertahan terus di Eropa belum tentu bisa berkembang atau survive, karena kalau di bench terus maka karier tidak akan berkembang," katanya.
Baca juga: Herdman tidak pandang tampilnya pemain diaspora di Indonesia hal buruk
Pewarta: Aloysius Lewokeda
Editor: Irwan Suhirwandi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































