Jakarta (ANTARA) - Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Institut Fraunhofer menunjukkan bahwa kendaraan yang berlabel Plug-In Hybrid Electric Vehicle (PHEV) justru mengonsumsi bensin jauh lebih banyak daripada yang tertera pada label resmi perusahaan.
PHEV dianggap menjadi langkah sempurna, untuk menuju masa depan otomotif hijau. Meski demikian, penelitian membantah hal tersebut karena PHEV dinilai tidak dibangun dengan dasar yang kuat dan tidak bisa dipertanggung jawabkan.
Arena Ev pada Jumat (20/2) waktu setempat melaporkan bahwa penelitian yang melibatkan hampir satu juta kendaraan di seluruh Eropa, menunjukkan hasil rata-rata dari mobil jenis ini menggunakan 300 persen bahan bakar lebih banyak daripada yang diklaim oleh hasil uji pemerintah dan pabrikan.
Baca juga: GWM Australia tarik Cannon Alpha, Tank 300, dan Tank 500 hibrida 2025
Baca juga: BAIC BJ30 Hybrid FWD ditampilkan di ajang GJAW 2025
Alih-alih ingin menyelamatkan planet dari keterpurukan emisi, label PHEV ini justru menghadirkan masalah yang lebih serius dibandingkan dengan kendaraan berlabel mesin murni yang saat ini dianggap memiliki kontribusi nyata terkait emisi gas buang.
Uji efisiensi yang disetujui pemerintah di Eropa (WLTP), pernah menunjukkan bahwa mobil hybrid plug-in biasanya hanya menggunakan sekitar 1,57 liter bahan bakar untuk setiap 100 km.
Tetapi ketika para peneliti melihat data dunia nyata dari 981.035 kendaraan yang diuji, mereka menemukan rata-rata sebenarnya adalah mencapai 6,12 liter per 100 km.
Ini artinya, mobil listrik dengan mesin cadangan menggunakan bahan bakar hampir 3,9 kali lebih banyak daripada yang diiklankan.
Studi ini menggunakan monitor khusus di dalam mobil untuk melacak secara tepat berapa banyak bensin yang mereka bakar.
Baca juga: Lebih dari 10.000 mobil MG 3 di Australia ditarik kembali
Kumpulan data yang sangat besar mencakup hampir setiap jenis pengemudi dan model, sehingga hasilnya sulit diabaikan. Ternyata, mobil hibrida seringkali berperilaku seperti mobil bensin biasa.
Para peneliti dari Institut Fraunhofer juga memeriksa mode "pengurasan daya", yaitu ketika mobil mencoba menggunakan daya baterainya terlebih dahulu.
Bahkan dalam mode "lebih bersih" ini, mobil-mobil tersebut masih menggunakan 2,98 liter per 100 km, atau hampir dua kali lipat rata-rata yang diharapkan oleh regulator.
Hal ini dikarenakan mesin bensin lebih sering menyala daripada yang diperkirakan. Mesin mungkin menyala untuk membantu mobil berakselerasi, untuk menghidupkan pemanas di pagi yang dingin, atau hanya karena baterai lemah.
Bahkan, ketika pengemudi mengira mereka mengemudi sepenuhnya menggunakan listrik, knalpot seringkali masih mengeluarkan asap. Dari hasil penelitian ini, mereka menyimpulkan bahwa mesin jarang benar-benar mati.
Baca juga: Hemat energi, mobil hibrida Geely mampu tempuh Jakarta-Yogyakarta PP
Baca juga: BYD bersiap luncurkan PHEV Sealion 06 berjangkauan jauh
Baca juga: Chery Super Hybrid terbaru diklaim berjarak tempuh hingga 2.000 km
Pewarta: Chairul Rohman
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026


















































