Jakarta (ANTARA) - Pemerintah menggandeng perguruan tinggi serta periset bidang kesehatan untuk memperkuat pengobatan presisi melalui Biomedical and Genome Science Initiative (BGSI) melalui inovasi dan riset.
Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin di Jakarta, Kamis, mengatakan bahwa untuk mengembangkan pengobatan presisi melalui teknologi genome sequencing, harus ada kolaborasi dengan perguruan tinggi, mengingat perlunya kekuatan komputasi serta kecerdasan buatan (AI) yang luar biasa untuk memproses data-data tersebut.
Baca juga: BRIN nyatakan siap gabung ekosistem riset BGSI untuk kesehatan bangsa
"Karena bidang keilmuan kita itu terlalu jauh untuk ngejar ke sana. Tapi, kalau itu digabung dengan orang-orang dari mathematics atau informatics, atau biochemist, itu akan accelerated," kata Budi dalam BGSI Ecosystem Roadshow: "Introducing BGSI to the Indonesian Academia and Medical Research Ecosystem".
Budi menjelaskan dengan kolaborasi bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) serta perguruan tinggi, kemajuan pengetahuan dalam memahami tubuh manusia bisa dikejar.
Menurut Budi, selama ini banyak yang masih perlu dipelajari tentang cara tubuh manusia bekerja agar dapat mengembangkan pengobatan presisi.
Contohnya, kata Budi, kortisol. Saat ini, pemahaman tentang kortisol, seperti cara menaikkan maupun menurunkannya, belum 100 persen.
"Mungkin sekarang baru 50 persen kita understand. Kalau kita understand100 persen how our body metabolism works, kita harusnya usianya 120 tahun. Karena kita bisa mengetahui itu," kata Budi.
Baca juga: Pemerintah siapkan konsorsium BGSI guna tangani penyakit lebih presisi
Budi mengatakan BGSI dibangun di Bogor, dekat Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk mempermudah replikasi pengetahuan dan memperdalam pemahaman akan manusia, mengingat DNA tumbuhan, binatang, dan manusia diciptakan sama.
"Kita bisa lakukan lebih cepat di hewan sebelum kita lakukan di manusia. Itu sebabnya semua biotech itu kalau saya lihat dari teknologinya, yang di tumbuhan dan hewan jauh lebih maju daripada yang di manusia, karena ada konsep etik," katanya.
Menurutnya, persilangan antar-keilmuan ini sangat dibutuhkan. Oleh karena itu, dia mengusulkan pada Mendiktisaintek, Brian Yuliarto untuk membuat semacam sekolah yang berfokus pada bioteknologi, dimana keilmuannya dari cabang kedokteran, biologi, kecerdasan buatan (AI), dan lain-lain.
"Karena ini (DNA) massive information. Saya lihat manusia itu punya base pair 3 billion. Itu permutasi kombinasinya semua akan menentukan penyakitnya dan metabolisme kita seperti apa, itu nggak mungkin, itu dilakukan oleh orang-orang kesehatan. Karena bidang keilmuan kita itu terlalu jauh untuk ngejar ke sana," katanya.
Dia menyebutkan saat ini ada sekitar 20 ribuan pasien yang sudah direkrut untuk program BGSI, dan sudah dilakukan genome sequencing terhadap sekitar 16 ribu-17 ribu orang.
Saat ini, kapasitas genome sequencing Indonesia 15 ribu per tahun, dan diharapkan pada tahun depan ada 100 ribu data yang terkumpul. Diharapkan pada 2030, ada 300 ribu-400 ribu data yang terkumpul.
Budi menyebutkan bahwa kapasitas genome sequencing dapat ditingkatkan, karena teknologi sudah canggih, dan dapat dikembangkan, sehingga biaya per prosedur bisa ditekan hingga di bawah 200 dolar AS per whole genome sequence.
Baca juga: Menkes: CKG mampu perkaya data BGSI guna kembangkan pengobatan presisi
Baca juga: BGSi: Ketahui obat yang cocok lewat informasi genomik
"Karena harganya sekarang jauh lebih murah. Informasi sudah masuk di komputer, sekarang sudah ada 1 petabyte. Kita mau increase sampai 10 petabyte sistem. Nah, sekarang pengolahannya gimana? Nah pengolahannya, tadi Pak Luhut (Ketua Dewan Ekonomi Nasional) nawarin, pakai NVIDIA," katanya.
Menurutnya, dengan pengobatan yang lebih presisi, penanganan per individu lebih tepat.
Dia mencontohkan ada sejumlah penyebab orang batuk. Melalui teknologi tersebut, bisa diidentifikasi jenis dan penyebab batuknya, sehingga bisa langsung diberikan obat yang cocok tanpa perlu mencoba-coba yang lain.
Pewarta: Mecca Yumna Ning Prisie
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































