Pemerintah fokus optimalkan gas bumi dan energi baru terbarukan

2 hours ago 3
Peta jalan energi Indonesia telah bergeser secara signifikan dibandingkan tiga dekade lalu. Indonesia yang dahulu merupakan eksportir minyak besar kini berfokus pada optimalisasi gas bumi dan EBT,

Jakarta (ANTARA) - Tenaga Ahli Menteri ESDM Satya Hangga Yudha mengatakan, pemerintah kini fokus mengoptimalkan pemanfaatan gas bumi dan energi baru terbarukan (EBT) dalam pengelolaan sumber daya alam.

"Peta jalan energi Indonesia telah bergeser secara signifikan dibandingkan tiga dekade lalu. Indonesia yang dahulu merupakan eksportir minyak besar kini berfokus pada optimalisasi gas bumi dan EBT," ujarnya dalam keterangannya di Jakarta, Senin.

Menurut dia, Indonesia tengah berada dalam fase krusial transformasi energi yang menitikberatkan pada keseimbangan antara ketahanan energi, keterjangkauan harga, dan komitmen rendah emisi.

Dalam forum 3M SIBG General Industrial Channel, yang berlangsung di Jakarta, Senin tersebut, Hangga memaparkan visi strategis pemerintah dalam mengelola kekayaan SDA di tengah dinamika global dan transisi menuju EBT.

Baca juga: BPH Migas dorong fasilitas FSRU guna perkuat pasokan gas bumi di Jatim

Ia menegaskan, lifting minyak nasional berada 605.300 barel per hari, sementara kebutuhan mencapai 1,6 juta barel/hari.

Sebaliknya, Indonesia surplus gas bumi dengan total produksi 6.500 MMSCFD dan konsumsi 4.500 MMSCFD atau surplus 2.000 MMSCFD.

Untuk memenuhi kebutuhan domestik yang tinggi terutama dari PT PLN (Persero) dan PT PGN Tbk, pemerintah mempercepat proyek infrastruktur gas seperti pipa dan proyek, yang dibutuhkan untuk LNG.

"Proyek strategis seperti Geng North (Eni), Abadi Masela, Andaman, FLNG Genting, hingga DSLNG diarahkan untuk memastikan pasokan domestik tetap aman pasca-2027," ujarnya.

Baca juga: BPH Migas: Penyaluran gas bumi PGN di Jatim capai 197,91 BBTUD

Di sisi lain, menurut Hangga, melalui Keppres No 1 Tahun 2025, pemerintah membentuk Satgas Hilirisasi yang diketuai Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.

Satgas ini berfungsi koordinasi lintas sektor, yang mengintegrasikan kebijakan antara Kementerian ESDM, KLH (amdal), Kemenhub (logistik) hingga Danantara (investasi dan BUMN).

Hangga melanjutkan, dalam upaya meningkatkan efisiensi dan keamanan (safety/HSSE), sektor hilir migas Indonesia kini mulai mengadopsi akal imitasi (AI).

"AI diterapkan di kilang dan terminal untuk mendeteksi leakage (kebocoran) serta memantau mobilitas distribusi 24/7 melalui sistem dashcam dan sensor pada armada tangki LPG/BBM," ujarnya.

Baca juga: BPH Migas jaga kelancaran gas bumi di Jawa Timur

Di sisi lain, setelah sukses dengan Biodiesel B40, pemerintah menargetkan implementasi B50 pada semester kedua 2026 untuk mengurangi ketergantungan impor solar dan menekan defisit neraca perdagangan.

Hangga juga memaparkan Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 dengan target penambahan 69,5 GW, yang mana 42,6 GW (lebih dari 60 persen) berasal dari EBT serta integrasi lebih dari 10 GW storage untuk mengatasi sifat intermitensi tenaga surya dan angin.

Ada pula program penggantian PLTD di wilayah 3T (tertinggal terdepan dan terluar) dengan EBT seperti surya/hidro, yang kini secara ekonomi lebih kompetitif dibandingkan biaya logistik bahan bakar fosil ke daerah terpencil.

Lalu, pengembangan reaktor nuklir skala kecil (small modular reactor/SMR) juga tercantum dalam RUPTL 2025-2034 di Bangka Belitung dan Kalimantan Barat, yang mulai dikaji masing-masing 250 MW.

Baca juga: PGN catat realisasi gas bumi periode Nataru capai 881 BBTUD

Sementara, panas bumi tetap menjadi prioritas utama sebagai baseload 24 jam, yang mana Indonesia menjadi negara nomor dua terbesar yang memanfaatkan tenaga panas bumi setelah Amerika Serikat dengan realisasi sebesar 2,7 GW.

Hangga pun menggarisbawahi peluang kolaborasi bagi perusahaan penyedia solusi industri, seperti PT 3M Indonesia, cukup luas mencakup sektor migas, minerba, hingga EBTKE.

Fokus pemerintah pada aspek safety, efisiensi energi, dan digitalisasi membuka ruang bagi teknologi global untuk berkontribusi dalam proyek-proyek strategis nasional.

"Ketahanan energi bukan hanya soal ketersediaan sumber daya, tapi bagaimana kita bisa memuaskan demand domestik secara berkelanjutan dan kompetitif. Dukungan lintas sektoral dan investasi dari mitra lokal maupun internasional adalah kunci untuk mencapai target RUPTL di 2034 dan net zero emission (NZE) di 2060," sebut Hangga.

Baca juga: PGN Batam catat 12 dapur MBG beroperasi gunakan gas bumi

Pewarta: Kelik Dewanto
Editor: Abdul Hakim Muhiddin
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |