Kupang, NTT (ANTARA) - Pemantauan hilal (rukyatul hilal) di rooftop Stasiun Geofisika Kupang BMKG Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk penentuan awal bulan Syawal 1447 Hijriah terkendala mendung berawan tebal dan sempat hujan.
“Hingga saat ini, hilal belum dapat terlihat. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk kondisi cuaca dan alam yang tidak memungkinkan. Selain itu, ketinggian hilal juga belum memenuhi ketentuan,” kata Pelaksana Harian (Plh.) Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) NTT Achmad Alkatiri di Kupang, Kamis.
Ia menjelaskan secara keseluruhan, Kementerian Agama melaksanakan rukyatul hilal di 117 titik di seluruh Indonesia.
Sementara itu, untuk wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) hanya terdapat satu titik pengamatan, yakni bersama BMKG di Kota Kupang.
“Selanjutnya kami akan memantau perkembangan informasi terkait hilal dari Kanwil Kemenag di berbagai wilayah di Indonesia,” katanya.
Hasil pengamatan tersebut, kata dia, diharapkan dapat menjadi dasar yang kuat dalam penetapan 1 Syawal 1447 Hijriah dan memberikan kepastian bagi umat Islam dalam merayakan Idul Fitri.
Baca juga: BMKG: Hilal di Malang tak terlihat karena terhalang awan
Ia menambahkan rukyatul hilal bukan sekadar kegiatan teknis untuk melihat hilal, melainkan kolaborasi lintas sektor yang menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan dan keyakinan dapat berjalan berdampingan.
“Kegiatan ini bukan hanya soal melihat hilal, tetapi juga pembuktian. Kita ingin memastikan bahwa perhitungan hisab yang akurat hingga ke detik benar-benar sesuai dengan kenyataan,” ujarnya.
Ia juga mengatakan penetapan atau isbat awal bulan Syawal memiliki arti penting bagi umat Islam, khususnya di Indonesia. Sidang isbat merupakan mekanisme resmi pemerintah dalam menetapkan awal bulan-bulan tersebut.
“Kami sangat berharap pelaksanaan Idul Fitri tahun ini dapat berlangsung dengan tertib, aman, damai, serta menjunjung tinggi nilai toleransi, kebersamaan, dan saling menghormati di antara sesama,” katanya.
Plh. Kepala Kanwil Kemenag NTT Achmad Alkatiri (tengah) memberikan keterangan kepada awak media di Kupang, Kamis (19/3/2026). ANTARA/Yoseph Boli BataonaSementara itu, Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Kupang Arief Tyastama mengatakan proses penentuan awal bulan harus dilakukan secara cermat, ilmiah, dan dapat dipertanggungjawabkan.
“BMKG sebagai institusi yang memiliki kompetensi dalam pengamatan dan analisis kondisi atmosfer serta dukungan data astronomi berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat dalam mendukung pelaksanaan rukyatul hilal hari ini,” katanya.
Ia juga mengatakan kegiatan tersebut mencerminkan sinergi lintas sektor menjelang Hari Raya Idul Fitri.
Lebih lanjut, dalam pantauan ANTARA di lokasi, dikarenakan kondisi yang sempat hujan dan berawan tebal alat teropong tidak bisa dikeluarkan untuk melakukan pemantauan.
Baca juga: Kemenag: Hilal 1 Syawal belum memenuhi kriteria MABIMS di Merauke
Pewarta: Yoseph Boli Bataona
Editor: Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































