Pelni perkuat budaya keselamatan awak kapal hadapi kondisi darurat

51 minutes ago 3

Jakarta (ANTARA) - PT Pelayaran Nasional Indonesia atau PT Pelni (Persero) memperkuat kesiapan awak kapal menghadapi kondisi darurat melalui penguatan budaya keselamatan, pelatihan tanggap risiko, dan evaluasi operasional seluruh armada pelayaran nasional.

Sekretaris Perusahaan Pelni Ditto Pappilanda mengatakan keselamatan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari operasional perusahaan sebagai penyedia layanan pelayaran nasional.

"Karena itu, penguatan budaya keselamatan perlu dilakukan secara konsisten dan melibatkan seluruh awak kapal. Keselamatan menjadi prioritas utama dalam setiap kegiatan operasional Pelni," kata Ditto dikonfirmasi di Jakarta, Minggu.

Adapun Pelni menyelenggarakan Fleet Safety Excellence Award 2026 sebagai upaya memperkuat budaya keselamatan di seluruh armada perusahaan.

Baca juga: Kemenhub perkuat kesiapan awak kapal Pelni hadapi situasi darurat

Program itu mendorong kapal dan awak kapal untuk terus meningkatkan penerapan keselamatan dalam setiap aktivitas operasional pelayaran.

Dia menyampaikan Fleet Safety Excellence Award merupakan program yang ditujukan bagi kapal dan awak kapal Pelni, baik kapal penumpang, kapal perintis, kapal barang, kapal ternak maupun kapal rede.

"Program ini mencakup sejumlah aspek keselamatan, antara lain pelaksanaan emergency response dan safety drill, kepemimpinan keselamatan, pelaporan hazard dan near miss," ujarnya.

Karena itu, kata Ditto, melalui kegiatan itu pihaknya ingin membangun kesadaran bahwa keselamatan bukan hanya tanggung jawab satu pihak, tetapi menjadi komitmen bersama seluruh awak kapal untuk memastikan pelayaran berjalan aman dan andal.

Program ini menyasar seluruh armada yang dioperasikan Pelni meliputi 26 kapal penumpang, 30 kapal perintis, sembilan kapal barang, satu kapal ternak, dan 17 kapal rede.

Ia menyebutkan peserta tidak hanya mencakup kapal sebagai unit operasional, tetapi juga nakhoda, perwira, serta seluruh awak kapal yang memiliki peran dalam penerapan keselamatan, pengendalian risiko, dan kelancaran operasional kapal.

Dalam pelaksanaannya, nakhoda menjadi pimpinan tertinggi di atas kapal yang bertanggung jawab terhadap implementasi keselamatan pelayaran dan penerapan International Safety Management (ISM) Code.

Baca juga: Pelni Ambon tingkatkan kemampuan awak kapal lewat Top Drill

Sementara itu, perwira dan seluruh awak kapal menjalankan fungsi keselamatan sesuai tugas dan tanggung jawab masing-masing, termasuk dalam kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat, pengendalian risiko, serta pelaporan potensi bahaya di atas kapal.

"Pelaksanaan emergency response dan safety drill menjadi salah satu bagian penting dalam program ini," tutur Ditto.

Struktur tanggap darurat di kapal melibatkan nakhoda sebagai pimpinan, perwira dan awak kapal yang bertugas dalam pengendalian keadaan darurat, pemadaman kebakaran, pertolongan dan evakuasi, serta dukungan komunikasi dan operasional.

Pembagian peran tersebut bertujuan memastikan setiap awak memahami tugasnya dan dapat merespons kondisi darurat secara cepat dan terkoordinasi.

Melalui program tersebut, Pelni mendorong peningkatan kepatuhan terhadap prosedur keselamatan, penerapan International Safety Management (ISM) Code, kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat, serta partisipasi awak kapal dalam mengidentifikasi dan melaporkan potensi bahaya di lingkungan kerja.

Untuk mendukung keselamatan pelayaran, kapal-kapal Pelni sudah dilengkapi dengan berbagai alat keselamatan. Pada kapal penumpang tersedia 216 lifeboat dengan kapasitas 24.491 orang, 1.468 life-raft dengan kapasitas 36.700 orang, 70.671 life-jacket, 376 life-buoy, serta 25 Marine Evacuation System (MES).

Baca juga: Erupsi GAK, Pelni pastikan kegiatan operasional kapal tetap tertaja

Secara keseluruhan, ketersediaan lifeboat dan life-raft pada kapal penumpang mencapai kapasitas 61.191 orang.

Sementara pada kapal perintis tersedia 84 lifeboat dengan kapasitas 4.438 orang, 600 life-raft dengan kapasitas 15.000 orang, 16.253 life-jacket, dan 310 life-buoy.

Ketersediaan lifeboat dan life-raft pada kapal perintis mencapai kapasitas 19.438 orang. Seluruh alat keselamatan tersebut secara berkala dilakukan pengecekan oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan.

Jumlah alat keselamatan tersebut telah disesuaikan dengan ketentuan keselamatan yang berlaku, termasuk pemenuhan kapasitas alat keselamatan sebesar 125 persen dari kapasitas maksimal kapal.

Pemenuhan alat keselamatan juga menjadi bagian penting dalam memastikan kesiapan kapal menghadapi berbagai kondisi darurat selama pelayaran..

“Yang kami harapkan bukan hanya munculnya kapal-kapal dengan kinerja keselamatan yang baik, tetapi terbentuknya kebiasaan dan budaya keselamatan yang diterapkan secara konsisten di seluruh armada," kata Ditto.

Baca juga: Kemenhub perkuat budaya keselamatan pelayaran di kapal Pelni

Baca juga: Pelni serahkan 29 ton bantuan gempa NTT yang diangkut dari Jakarta

Pewarta: Muhammad Harianto
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |