Khartoum (ANTARA) - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Kamis (2/4) membuka kembali kantor pusatnya di Khartoum, bersamaan dengan dimulainya kembali operasi Program Pembangunan PBB (UNDP), membuka jalan bagi pemulihan bertahap aktivitas PBB setelah hampir tiga tahun ditangguhkan menyusul pecahnya konflik di negara itu.
Menteri Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional Sudan Mohi El-Din Salem, para pejabat PBB serta perwakilan pemerintah Negara Bagian Khartoum menghadiri upacara pembukaan kembali tersebut.
Dalam sebuah pernyataan, menteri Sudan tersebut mengatakan bahwa pembukaan kembali itu mencerminkan dimulainya kembali kerja sama antara pemerintah Negara Bagian Khartoum dan PBB serta memuji langkah tersebut sebagai "indikator positif" dari bangkitnya kembali kemitraan internasional dan dukungan bagi upaya stabilisasi negara itu.
Sementara itu, Associate Administrator UNDP Xu Haoliang mengatakan kembalinya badan-badan PBB ke Khartoum merupakan dukungan penting bagi Sudan pada fase saat ini.
Xu mengatakan UNDP berfokus pada respons kemanusiaan sambil memperkuat kapasitas lembaga nasional dan masyarakat setempat, serta berkontribusi pada upaya pemulihan dan rekonstruksi.
PBB sebelumnya telah merelokasi sebagian besar operasinya ke luar Khartoum, sembari tetap mempertahankan sejumlah kegiatan kemanusiaan melalui kantor lapangan di negara bagian lain, di tengah tantangan besar terkait akses serta memburuknya infrastruktur dan layanan dasar.
Sudan menghadapi salah satu krisis kemanusiaan terbesar di kawasan itu. Perang yang berlangsung telah menyebabkan jutaan orang mengungsi, baik di dalam maupun ke luar negeri, disertai penurunan tajam layanan kesehatan dan pendidikan serta meningkatnya kerawanan pangan.
Sebelumnya, PBB memperingatkan meningkatnya kebutuhan kemanusiaan di Sudan seiring perang yang mendekati tahun ketiganya. Menurut Rencana Respons Kemanusiaan Sudan 2026 yang baru-baru ini diumumkan PBB, sekitar 33,7 juta orang di Sudan akan membutuhkan bantuan kemanusiaan tahun ini, meningkat 3,3 juta dibandingkan 2025.
Pewarta: Xinhua
Editor: Benardy Ferdiansyah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































