Pakar paparkan tingkat kesesuaian minat dengan cita-cita pelajar SMA

3 weeks ago 8
Dampak ketidaksesuaian yang sering terjadi selama ini adalah kasus salah jurusan, yang membuat mahasiswa merasa tidak nyaman. Akhirnya mereka pindah jurusan di pertengahan jalan...

Yogyakarta (ANTARA) - Psikolog Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) Prof. Rahma Widyana menyatakan kesesuaian antara tipe minat dan cita-cita sebagian besar siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) di Indonesia saat ini pada kategori sedang atau moderat.

"Berdasarkan tingkat kongruensinya, kesesuaian antara tipe minat dengan cita-cita sebagian besar anak di Indonesia berada pada kategori sedang atau moderat. Jadi, tingkat kesesuaiannya tidak terlalu tinggi," kata Rahma pada pengukuhan guru besar bidang Psikologi Pendidikan (Psikologi Sekolah) yang diraihnya selaku dosen Fakultas Psikologi UMBY.

Dalam penelitiannya mengenai minat karier siswa SMA di Indonesia, Rahma mengkaji relevansi teori pilihan karier dari John Holland (yang membagi tipe minat menjadi realistik, investigatif, artistik, sosial, enterprising, dan konvensional) untuk melihat tingkat kongruensi antara minat anak-anak Indonesia dengan impian mereka.

Menurut dia, terkadang anak SMA Indonesia tertarik pada sesuatu atau memiliki sebuah mimpi karena dorongan keluarga. Bisa juga karena mereka melihat hal tersebut sebagai sebuah prestise atau memiliki kaitan dengan status sosial.

Baca juga: Mendikdasmen: Semua anak Indonesia adalah bintang dengan potensi besar

"Misalnya, ada keinginan untuk memberikan manfaat di suatu bidang, tetapi pilihan itu tidak disesuaikan dengan tipe minat yang mereka miliki," katanya.

Menanggapi fenomena tersebut, selama lima tahun terakhir Rahma selaku psikolog telah melakukan program pendampingan penelusuran bakat dan minat bagi siswa SMA. Intervensi ini juga mencakup pemberian konseling kepada orang tua siswa.

Langkah tersebut diambil untuk menggeser paradigma lama, sehingga penentuan masa depan anak tidak lagi semata-mata didasarkan pada prestise atau proyeksi keuntungan finansial ekonomi, melainkan pada pencapaian optimal yang berbasis kesesuaian minat.

Lebih lanjut Rahma juga menyoroti rantai masalah sistemik yang muncul akibat abainya pihak-pihak terkait terhadap potensi asli siswa.

"Dampak ketidaksesuaian yang sering terjadi selama ini adalah kasus salah jurusan, yang membuat mahasiswa merasa tidak nyaman. Akhirnya mereka pindah jurusan di pertengahan jalan atau tidak bisa optimal dalam menekuni bidang tersebut," katanya.

Baca juga: WamenPPPA ajak anak muda bangun inovasi dari potensi lokal

Kondisi tersebut, menurut dia, berakibat ketika memasuki dunia kerja, mereka mungkin akan berganti haluan lagi pada bidang lain yang tidak sesuai dengan studinya.

"Karena hal tersebut bukan passion atau tidak sesuai dengan tipe minatnya, pada akhirnya pengembangan karier mereka menjadi tidak optimal," katanya.

Lebih lanjut Rahma mengatakan peran orangtua menjadi sangat krusial dan pola pengasuhan dari orang tua yang cenderung memaksakan kehendak atau cita-cita pribadi kepada anak tanpa mempertimbangkan kecocokan minat, harus mulai ditinggalkan.

"Orang tua seharusnya tidak egois dengan hanya mengedepankan keinginan pribadi pada anak nantinya. Tapi sebaliknya, perlu memberikan alternatif yang sesuai keinginan dan potensi anak, sehingga anak merasa nyaman dan meyakini bahwa bidang tersebut adalah passion-nya," kata Rahma.

Baca juga: Wamendiktisaintek: SMA Unggul Garuda maksimalkan potensi anak daerah

Pewarta: Hery Sidik
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |