Ambon (ANTARA) - Pakar linguistik Maluku Prof Wilma Akihary, mengemukakan pendidikan multikultural memiliki peran strategis dalam menumbuhkan jiwa toleransi, empati, dan sikap saling menghargai pada siswa di tengah masyarakat yang majemuk.
“Pendekatan tersebut efektif diterapkan melalui pembelajaran bahasa yang adaptif terhadap perkembangan zaman dan realitas sosial budaya,” kata dia di Ambon, Rabu usai dikukuhkan sebagai guru besar Bidang ilmu pendidikan bahasa-Linguistik.
Guru Besar Bidang Pendidikan Bahasa bidang Linguistik Universitas Pattimura itu menekankan pentingnya integrasi linguistik dan nilai multikultural dalam sistem pendidikan.
Menurut dia, pembelajaran bahasa di era pendidikan saat ini tidak cukup hanya berorientasi pada penguasaan struktur dan tata bahasa, tetapi harus mampu menjawab tantangan masyarakat global yang multikultural melalui inovasi pedagogik berbasis teknologi digital.
“Pembelajaran bahasa asing, harus mengintegrasikan aspek linguistik, kesadaran budaya, dan inovasi pedagogik. Bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga penanda identitas serta wahana pewarisan nilai-nilai budaya,” ujarnya.
Baca juga: Pakar linguistik: Perubahan kosakata biasa terjadi
Ia menambahkan, pembelajaran bahasa asing justru harus memperkuat kesadaran akan bahasa ibu dan kearifan lokal sebagai fondasi dalam membangun identitas peserta didik di tengah arus globalisasi.
Ia menjelaskan kajian linguistik, baik mikro maupun makro, memiliki peran penting dalam membangun kompetensi komunikatif, kemampuan berpikir kritis, serta reflektif mahasiswa.
Misalnya dari hasil penelitian yang dilakukannya terkait pendekatan linguistik kontrastif antara bahasa Indonesia dan bahasa Jerman, kata dia, terbukti efektif dalam meningkatkan kesadaran bahasa (language awareness) peserta didik sekaligus memberikan wawasan baru bagi peserta didik tentang kebudayaan orang lain.
Selain itu, pendidikan multikultural menjadi elemen penting dalam pembelajaran bahasa. Menurutnya, ruang kelas bahasa merupakan wahana strategis untuk menumbuhkan sikap toleransi, empati, dan kebersamaan di tengah keberagaman latar belakang sosial dan budaya.
Baca juga: Pakar linguistik dunia hadiri konferensi internasional di USK
“Pendidikan multikultural terbukti mampu meningkatkan kepercayaan diri mahasiswa, partisipasi aktif dalam pembelajaran, serta membangun rasa kebersamaan yang kuat,” katanya, merujuk pada hasil penelitian yang dilakukannya di lingkungan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unpatti.
Dalam bidang inovasi pedagogik, dirinya juga memaparkan sejumlah model pembelajaran inovatif berbasis digital yang telah dikembangkannya, antara lain Quantum Learning berbantuan media digital, Model ISLANDS, Discovery Learning berbantuan YouTube, serta model kolaboratif Schneeball–Wirbelgruppe.
Model-model tersebut, lanjutnya, terbukti mampu meningkatkan hasil belajar kognitif, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, serta motivasi belajar mahasiswa maupun siswa, sekaligus memperkuat nilai toleransi dan multikulturalisme dalam proses pembelajaran bahasa.
Baca juga: Masyarakat Linguistik Komputasional inginkan korpus bahasa Indonesia
Baca juga: Linguistik forensik punya peran penting di bidang hukum
Pewarta: Ode Dedy Lion Abdul Azis
Editor: Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
















































