Denpasar (ANTARA) - Grup musik independen asal Bali Nosstress dan musisi Made Mawut meluncurkan karya kolaborasi lagu dan video musik bersama anak-anak dalam rangka Hari Anak Nasional.
“Lagu ini berjudul Selaras, ini terkait Hari Anak Nasional, jadi anak-anak yang menyanyikan, lagu ini tentang anak-anak yang belajar dan juga orang tua yang harus lebih banyak belajar lagi,” kata Personel Nosstress Nyoman Angga Yudsitha di Denpasar, Kamis.
Dalam video musik sendiri, Man Angga menampilkan sekitar 11 anak yang sedang bernyanyi sambil bermain, mereka di pantai, di kebun, dan di studio rekaman saling tertawa seolah menunjukkan apa yang sebenarnya diharapkan: kesederhanaan, kebersamaan, dan keharmonisan hidup.
Ia bercerita karya ini diproses cukup lama, sengaja digarap perlahan mulai dari lirik dan musik oleh Nosstress dan Made Mawut, kemudian meminta anak-anak menghafal lirik hingga mau untuk bernyanyi beramai-ramai.
Dari Nosstress sendiri, Selaras ingin digambarkan sebagai antitesisnya, apa yang dibutuhkan anak-anak justru tidak selaras atau sulit didapatkan.
Situasi hari ini, dimana masalah global dan ekonomi Indonesia memaksa orang tua harus terus bekerja keras, membuat semakin berkurangnya waktu orang tua untuk anak, ruang untuk belajar pun kerap terbatas.
Baca juga: HAN 2026, Kemendikdasmen ajak anak kembali bermain dan kurangi gawai
“Selaras itu sebuah kesesuaian sementara banyak sekali hal tidak selaras yang akhirnya membuat anak-anak kita menjadi korban seperti orang tua yang tersita kehidupannya kemudian tidak memiliki waktu yang cukup untuk hidup bersama anak-anak, padahal bagi anak, menjadi selaras tidak memerlukan banyak hal,” ujarnya.
Sementara itu bagi musisi lokal Made Mawut, lagu ini dibuat untuk menanamkan nilai-nilai kerja sama dan kesetaraan pada anak-anak.
Di Hari Anak Nasional ini, ia berharap negara semakin hadir memfasilitasi tumbuh kembang anak secara harmonis, tanpa paksaan kompetisi, dan selaras dengan hak-hak dasarnya.
Ngurah Termana, satu orang tua anak yang dilibatkan dalam karya mengapresiasi gagasan ini, menurutnya Selaras hadir sebagai ruang untuk berefleksi, mengingat, sekaligus berdialog, bahwasannya anak dan orang tua sama-sama sedang bertumbuh.
Baca juga: Jejak sejarah peringatan Hari Anak Nasional di Indonesia
“Dunia anak-anak sering membawa pada ingatan hal-hal yang sederhana, tangan yang kotor bermain tanah, tawa senang saat bercanda bersama, sepotong kue yang dibagi rata, saling mendengarkan saat teman bercerita, kederhanaan yang semakin tergerus di tengah dunia yang bergerak semakin cepat dan dibangun makin tak terkendali,” ujarnya.
Lewat karya ini, ia sebagai ayah mulai memahami dunia saat ini tidak lagi sama dengan tempat dulu tumbuh, orang tua perlu belajar menerima bahwa anak bukanlah ruang kosong yang harus ia isi dengan mimpi-mimpinya.
Anak datang membawa zamannya sendiri, dengan rasa ingin tahu, bakat, karakter, dan caranya sendiri memandang kehidupan.
“Konon, menjadi orang tua adalah tentang mengajarkan banyak hal kepada anak, namun semakin kami menjalaninya, kami menyadari bahwa menjadi orang tua justru adalah tentang terus belajar,” sambung Ngurah Termana.
Baca juga: Selvi Gibran bernostalgia dengan permainan tradisional di puncak HAN
Pewarta: Ni Putu Putri Muliantari
Editor: Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































