Muna gelar lomba Kaghati Kolope untuk lestarikan layang-layang purba

6 hours ago 1

Muna (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara (Sultra), melalui Desa Liangkabori menggelar Festival Layang-Layang "Kaghati Kolope" di kawasan cagar budaya Goa Liangkobori, sebagai upaya merawat dan melestarikan jejak peradaban berupa layang-layang purba.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Muna LM Masrul saat ditemui di Muna, Minggu, menyampaikan bahwa festival ini menjadi momentum penting untuk memperkenalkan kembali tradisi lokal kepada generasi muda agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman.

"Layang-layang Kaghati Kolope ini merupakan layang-layang purba. Jejak sejarahnya terekam jelas pada situs Goa Liangkobori, di mana terdapat lukisan dinding prasejarah yang menggambarkan orang sedang menerbangkan layang-layang," kata Masrul.

Dia menyebutkan bahwa keunikan Kaghati Kolope terletak pada bahan bakunya yang sepenuhnya memanfaatkan hasil alam secara turun-temurun. Daun umbi hutan (kolope) yang dikeringkan digunakan sebagai bahan utama badan layangan, bambu sebagai rangka, serta serat nanas atau serat kulit pohon sebagai talinya.

Masyarakat yang menerbangkan Kaghati Kolope (layang-layang) tradisional yang mengikuti lomba di Muna, Sulawesi Tenggara, Minggu (12/7/2026). ANTARA/La Ode Muh Deden Saputra

Baca juga: Fadli Zon usul lukisan cadas tertua Muna jadi ikon Museum Sultra

Sebagai langkah konkret, Dinas Pariwisata Muna berkomitmen untuk mengampanyekan warisan budaya ini secara masif agar masyarakat, khususnya generasi muda, tertarik dan familiar dalam menjaga eksistensi Kaghati Kolope.

"Selain bernilai sejarah, tradisi ini juga sarat akan filosofi mendalam mengenai keharmonisan antara manusia dengan alam, semangat gotong royong, serta penguatan identitas budaya daerah," sebutnya.

Masrul mengungkapkan bahwa dalam perlombaan Kaghati Kolope tersebut terdapat beberapa penilaian, antara lain natural, yang mana bahan yang digunakan secara keseluruhan harus betul-betul berasal dari bahan tradisional, kemudian kemampuan terbangnya, hingga aksesori yang digunakan dalam layangan tersebut.

"Ini ada tujuh layang-layang tradisional yang mengikuti lomba, dan sekitar 20 layang-layang kreasi," jelasnya.

Ia berharap, konsistensi dalam pelestarian Kaghati Kolope tidak hanya mampu menjaga eksistensi budaya leluhur Muna, tetapi juga dapat didorong menjadi daya tarik wisata budaya strategis. Ke depan, festival ini diharapkan mampu memperkenalkan kekayaan tradisi Sulawesi Tenggara ke panggung nasional hingga internasional.

Kepala Dispar Kabupaten Muna (kanan) saat menunjukkan menerbangkan Kaghati Kolope (layang-layang) tradisional yang mengikuti lomba di Muna, Sulawesi Tenggara, Minggu (12/7/2026). ANTARA/La Ode Muh Deden Saputra

Baca juga: Eksistensi Gua Batu Hapu situs geologi purba di Kalsel

Dispar Kabupaten Muna (kanan) saat menunjukkan menerbangkan Kaghati Kolope (layang-layang) tradisional yang mengikuti lomba di Muna, Sulawesi Tenggara, Minggu (12/7/2026).

Salah satu peserta festival, Laode Sainal, mengungkapkan bahwa proses pengerjaan satu buah layang-layang bisa memakan waktu hingga hitungan hari.

"Layang-layang ini menggunakan daun kolope yang diambil langsung dari hutan oleh perajin. Lama pembuatannya sangat tergantung pada kemahiran. Ada yang selesai dalam satu hari, namun ada juga yang membutuhkan waktu sampai lima hari. Untuk layangan yang saya gunakan ini, proses pembuatannya memakan waktu lima hari," kata Laode.

Baca juga: Ngawi Purba Festival angkat pesona Benteng Pendem

Baca juga: Goa Beloyot, jejak purba Kalimantan menuju geopark

Pewarta: La Ode Muh. Deden Saputra
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |