Jakarta (ANTARA) - Meski sampai akhir Maret 2026 belum ditemukan COVID varian BA.3.2 atau Cicada di Indonesia, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tetap melakukan surveilans dan pelaporan rutin dari lapangan serta pengujian sampel di lab guna antisipasi.
"Sampai saat ini (akhir Maret 2026), belum ditemukan varian tersebut di Indonesia. Varian dominan di Indonesia adalah XFG 57 persen, LF.7 29 persen, XFG 3.4.3 14 persen dengan risiko rendah," kata Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes Aji Muhawarman di Jakarta, Kamis.
Dikabarkan di media massa bahwa COVID varian Cicada sudah terdeteksi di sekitar 20 negara dan setidaknya 25 negara bagian Amerika Serikat (AS).
Karena situasi masih terkendali dan berisiko rendah, kata Aji, maka tidak ada tindakan khusus pengetatan di pintu masuk negara, seperti bandara dan pelabuhan.
Baca juga: Hanoi catat 29 kasus COVID-19 sejak awal 2026
Namun demikian pihaknya tetap mengingatkan publik untuk membiasakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), seperti dengan rajin cuci tangan pakai air mengalir dan sabun, konsumsi makanan bergizi, istirahat cukup, pakai masker jika sakit atau di keramaian.
Dikutip dari surkarkes.kemkes.go.id, influenza dan COVID-19 dipantau rutin melalui sentinel-sentinel fasilitas pelayanan kesehatan yaitu di 39 puskesmas, 35 rumah sakit, dan 14 Balai Karantina Kesehatan (pintu masuk negara). Pemantauan ini dilakukan untuk monitoring kasus dan karakteristik virus serta gejala keparahannya.
Per Minggu 12, dari 114 pemeriksaan COVID-19, tidak ada kasus positif dengan positivity rate sebesar 0 persen.
Varian dominan COVID-19 yang ada di Indonesia saat ini termasuk dalam kategori varian dengan risiko rendah, sehingga tidak perlu panik, namun tetap penting menjaga protokol kesehatan.
Baca juga: Cek fakta, virus superflu lebih berbahaya dibanding COVID-19
Pewarta: Mecca Yumna Ning Prisie
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































