Menyisir sisa ladang perjuangan setelah Indonesia merdeka

4 hours ago 2
Setiap kita dapat menemukan ladang perjuangan masing-masing untuk menanam benih kebaikan bagi Indonesia merdeka.

Bondowoso (ANTARA) - Setelah Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, masih adakah sisa-sisa ladang perjuangan yang bisa digarap oleh generasi masa kini? Kata "sisa" tidak berarti nilainya lebih rendah dari sebelumnya.

Ladang perjuangan dengan mengangkat senjata melawan penjajah, tentu sudah tidak ada, apalagi untuk masa kini, praktik kolonial sudah tidak ditemukan di negeri ini. Indonesia sudah merdeka.

Ibarat lahan pertanian, generasi pejuang yang telah mengantarkan perjalanan Indonesia menjadi merdeka, sudah menyelesaikan penggarapan lahan di ladang-ladang konvensional, dan generasi masa kini tinggal merawat warisan ladang bersih itu dengan menanam beragam benih untuk kebaikan.

Di luar ladang yang sudah bisa dipanen dan digarap ulang itu, generasi masa kini masih bisa membuka lahan baru untuk menorehkan nilai perjuangan dengan aneka benih kebaikan, dan demi Indonesia merdeka yang sejati.

Untuk merawat Indonesia yang merdeka, seorang guru dapat mengolah lahan lembaga pendidikan dengan melakoni profesinya secara profesional dan penuh komitmen untuk mengantarkan anak-anak didik mampu menapaki masa depan yang lebih baik.

Guru pejuang bukan sekadar sosok yang hadir di depan kelas, menyampaikan materi pelajaran, kemudian pulang ketika jam pelajaran berakhir.

Predikat moral "guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa" bukan untuk meninabubukkan para pendidik dari perjuangan pada ranah mencerdaskan kehidupan bangsa ini. Predikat mulia itu harus menjadi pemantik bagaimana nilai pahlawan betul-betul diperjuangkan dalam keseharian, termasuk di luar jam pelajaran.

Guru yang pahlawan dapat menemani anak-anak didiknya bertumbuh, bukan hanya sekedar mampu memahami, apalagi hanya menghafal mata pelajaran. Guru memiliki banyak pintu untuk masuk ke posisi sebagai pahlawan bagi murid dan bangsa. Selain sebagai guru, ia bisa menjadi teman, sekaligus orang tua kedua bagi anak murid.

Dalam konsep Islam Jawa, "catur piwulang" dari Sunan Drajat barangkali dapat menjadi pegangan para guru untuk meniti nilai kepahlawanan masa kini. Bunyi piwulang atau ajaran luhur itu adalah: memberi tongkat bagi mereka yang buta, memberi makan bagi mereka yang lapar, memberi pakaian bagi mereka yang telanjang, dan memberi tempat berteduh pada mereka yang kehujanan.

Pada era milenial ini, empat kondisi manusia yang digambarkan oleh Sunan Drajat itu hampir dipastikan akan dijumpai oleh para guru jika peka membaca situasi di sekolah dan masyarakat.

Fenomena kejiwaan yang banyak dialami generasi muda saat ini, dapat kita temui, seperti "orang buta" yang memerlukan tongkat untuk berjalan tegak dan lurus.

Dihadapkan pada gempuran tsunami informasi, anak-anak milenial banyak yang buta akan hakikat dirinya. Mereka juga buta akan masa depannya.

Anak-anak ini juga sedang lapar akan pengetahuan mencerahkan yang sesuai dengan kebutuhan jiwanya. Mereka juga telanjang, yang salah satu indikasinya adalah keluh kesah dibuka di berbagai saluran media sosial. Mereka tidak sadar bahwa dengan mengeluh di media yang sangat terbuka itu sama artinya dengan telanjang.

Pada saat bersamaan, mereka juga butuh berteduh dari terpaan hujan informasi dan masalah yang membuat mereka kedinginan. Guru bisa, bahkan seharusnya, hadir untuk menyelamatkan anak-anak yang terjebak hipotermia jiwa itu.

Jika setiap guru memiliki satu atau dua murid binaan yang kepadanya mereka mengejawantahkan jiwa kepahlawanan, mimpi Indonesia menghadapi Generasi Emas 2045, tentu akan dengan mudah diwujudkan.

Baca juga: Boy Rafli: HUT Ke-81 RI jadi momen refleksi perjuangan pahlawan

Baca juga: Pahlawan masa kini

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |