Menlu Pakistan kembali kunjungi China di tengah upaya mediasi Iran-AS

1 month ago 8

Beijing (ANTARA) - Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, bertemu dengan Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, untuk membahas konflik di Timur Tengah di tengah upaya Islamabad memediasi hubungan Amerika Serikat dan Iran.

"Wakil Perdana Menteri dan Menteri Luar Negeri Pakistan Mohammad Ishaq Dar akan tiba di China hari ini. Pertemuan Menteri Luar Negeri Wang Yi dan Menlu Ishaq Dar akan meningkatkan komunikasi dan koordinasi strategis mengenai situasi di Iran dan isu-isu internasional dan regional lainnya yang menjadi kepentingan bersama," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning dalam konferensi pers di Beijing, Selasa.

Diketahui Pakistan, Arab Saudi, Mesir, dan Turki sedang berupaya memfasilitasi pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah dengan kemungkinan Pakistan menjadi tuan rumah perundingan.

"China dan Pakistan bersama-sama menyerukan perdamaian dan posisi yang adil, serta melakukan upaya baru untuk membantu mengakhiri konflik dan mewujudkan perdamaian dan stabilitas di kawasan tersebut," tambah Mao Ning.

Namun, Mao Ning tidak menyebutkan rincian pembicaraan kedua menlu tersebut.

Sebelumnya Menlu Ishaq Dar mengatakan bahwa AS dan Iran telah menyatakan kepercayaan pada Pakistan untuk memfasilitasi potensi dialog antara kedua negara.

Dar menegaskan Islamabad bersedia menggelar dan memfasilitasi pembicaraan yang berarti antara kedua pihak dalam beberapa hari ke depan, demi penyelesaian yang komprehensif dan berkelanjutan atas konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah.

Para menlu dari Pakistan, Arab Saudi, Mesir, dan Turki, kata Ishaq Dar, telah memutuskan untuk membentuk komite yang beranggotakan empat pejabat senior dari kementerian luar negeri masing-masing guna merumuskan teknis pelaksanaan melalui kesepahaman dan konsensus bersama.

Sedangkan Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei mengatakan pada Senin (30/3) bahwa mereka belum melakukan negosiasi langsung dengan AS dan menyebut kontak masih sebatas pertukaran pesan melalui perantara.

Baqaei juga mempertanyakan kredibilitas klaim AS terkait upaya diplomatik untuk mengakhiri perang dengan Iran.

“Saya tidak tahu berapa banyak orang di AS yang menganggap serius klaim diplomasi Amerika. Misi kami jelas, tidak seperti pihak lain, yang terus-menerus mengubah posisinya,” ujarnya.

Menlu Pakistan juga mengatakan bahwa pertemuan yang diselenggarakan oleh pihaknya diorganisir secara “mandiri” dan Iran tidak berpartisipasi di dalamnya.

“Jika negara-negara di kawasan ingin mengakhiri perang, tetapi mereka harus memahami dengan jelas siapa yang memulainya,” ucapnya.

Padahal, Presiden AS Donald Trump mendorong upaya diplomatik, dengan mediator termasuk Pakistan, Turki, dan Mesir terlibat dalam kontak tidak langsung antara Washington dan Teheran.

Meski terjadi eskalasi, ia mengatakan pembicaraan tidak langsung dengan Iran melalui “utusan” Pakistan mengalami kemajuan, dan menambahkan bahwa kesepakatan bisa dicapai cukup cepat.

Trump menyebut yang ia inginkan adalah mengambil alih minyak di Iran seperti langkah AS terhadap Venezuela, di mana Washington bermaksud mengendalikan industri minyak "tanpa batas waktu" setelah secara paksa menangkap Presiden Nicolas Maduro pada Januari lalu.

Pentagon dilaporkan mengerahkan hingga 10.000 pasukan darat tambahan ke kawasan tersebut, dengan Komando Pusat (Central Command/CENTCOM) AS mengumumkan pada Sabtu (28/3) bahwa lebih dari 3.500 pasukan, termasuk 2.500 marinir, telah tiba di Timur Tengah.

Baca juga: Empat menlu dukung inisiatif Pakistan tuan rumah perundingan AS-Iran

Baca juga: Dar: AS-Iran nyatakan kepercayaan pada Pakistan fasilitasi dialog

Baca juga: Iran izinkan lagi 20 kapal Pakistan lintasi Selat Hormuz

Pewarta: Desca Lidya Natalia
Editor: M Razi Rahman
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |