Menlu Oman: Perundingan AS-Iran berikutnya digelar Kamis di Jenewa

2 hours ago 1

Teheran/Muscat (ANTARA) - Menteri Luar Negeri (Menlu) Oman Sayyid Badr bin Hamad bin Hamood Albusaidi pada Minggu (22/2) mengatakan perundingan Amerika Serikat (AS)-Iran putaran berikutnya akan diadakan pada Kamis (26/2) di Jenewa, Swiss.

"Dengan senang hati, saya mengonfirmasi bahwa negosiasi AS-Iran kini telah dijadwalkan akan digelar di Jenewa pada Kamis ini, dengan dorongan positif untuk melakukan upaya ekstra dalam mencapai kesepakatan," ujar dia di platform media sosial X.

Sementara itu, Menlu Iran Seyed Abbas Araghchi mengatakan dia mungkin akan bertemu dengan Steve Witkoff selaku utusan khusus Presiden AS di Jenewa pada Kamis (26/2) untuk membahas rancangan proposal kemungkinan kesepakatan nuklir yang akan disiapkan oleh Teheran.

Ia melontarkan pernyataan tersebut dalam sebuah wawancara dengan CBS News, yang disiarkan pada Minggu (22/2).

Araghchi mengatakan jika AS ingin menemukan solusi untuk program nuklir "damai" Iran, diplomasi merupakan satu-satunya cara.

Ia menyatakan bahwa Iran telah membuktikan hal itu di masa lalu, "dan saya yakin masih ada peluang baik untuk mencapai solusi diplomatik, yang didasarkan pada prinsip saling menguntungkan (win-win)."

Araghchi menyampaikan solusi terjangkau bagi kedua belah pihak. Menlu Iran itu juga mengatakan bahwa peningkatan militer tidak diperlukan karena tidak akan membantu proses pencapaian kesepakatan maupun menekan Iran.

Menanggapi rancangan proposal yang sebelumnya dia katakan akan disiapkan "dalam waktu dua hingga tiga hari," Araghchi menyampaikan, "Kami masih mengerjakannya, dan kami berupaya membuatnya menjadi rancangan yang terdiri dari elemen-elemen yang mampu mengakomodasi kekhawatiran dan kepentingan kedua belah pihak."

Ia menambahkan Iran dan AS dapat mencapai kesepakatan nuklir yang lebih baik daripada yang ditandatangani oleh Teheran dan sejumlah kekuatan dunia pada 2015.

Araghchi mengatakan tidak seperti negosiasi sebelumnya, di mana pihak-pihak yang terlibat membahas begitu banyak detail, "kali ini, detail yang banyak seperti itu tidak diperlukan, dan kami dapat menyepakati hal-hal mendasar serta memastikan program nuklir Iran bersifat damai dan akan tetap damai selamanya, dan di saat yang sama, makin banyak sanksi akan dicabut."

Ia menuturkan bahwa isu nuklir merupakan satu-satunya fokus negosiasi yang sedang berlangsung, sembari menyoroti hak Iran untuk melakukan pengayaan uranium di wilayahnya.

"Kami adalah anggota yang berkomitmen terhadap Perjanjian Nonproliferasi Nuklir (Nuclear Non-Proliferation Treaty/NPT) dan memiliki perjanjian pengamanan dengan Badan Energi Atom Internasional (International Atomic Energy Agency/IAEA). Kami siap untuk bekerja sama sepenuhnya dengan badan tersebut sesuai dengan (perjanjian) pengamanan dan mungkin akan menerima protokol tambahan untuk (perjanjian) pengamanan dan NPT dengan syarat-syarat tertentu. Saya rasa mekanisme verifikasi dan pemantauan penuh (terhadap program nuklir Iran) dapat diterima dan bisa diterapkan," ucapnya.

Pada Minggu (22/2), Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan negosiasi terbaru dengan AS "menunjukkan sinyal-sinyal yang menggembirakan," tetapi Iran siap menghadapi "segala kemungkinan skenario."

"Iran berkomitmen pada perdamaian dan stabilitas di kawasan ini. Negosiasi terbaru melibatkan pertukaran proposal praktis dan menunjukkan sinyal-sinyal yang menggembirakan. Namun, kami terus memantau tindakan AS secara cermat dan telah melakukan semua persiapan yang diperlukan untuk menghadapi segala kemungkinan skenario," ujar Pezeshkian dalam sebuah unggahan di media sosial.

Iran dan AS telah mengadakan negosiasi nuklir putaran pertama dan kedua masing-masing pada 6 Februari di Muscat, Oman, dan 17 Februari di Jenewa, Swiss. Proses diplomatik ini terjadi di tengah peningkatan kekuatan militer AS di dekat Iran.

Pewarta: Xinhua
Editor: Benardy Ferdiansyah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |