Teheran (ANTARA) - Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi, Minggu (5/4), membahas dan bertukar pandangan dengan rekan-rekannya dari Rusia dan India mengenai konflik regional yang sedang berlangsung dan melibatkan Amerika Serikat, Israel, serta Iran.
Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan, pembicaraan itu dilakukan melalui sambungan telepon, dengan dua panggilan terpisah.
Araghchi membahas perkembangan terbaru di kawasan Asia Barat serta konsekuensi keamanan dan ekonomi dari "agresi" AS dan Israel, bersama Menlu Rusia Sergei Lavrov dan Menlu India Subrahmanyam Jaishankar.
Araghchi menjelaskan soal "kejahatan" yang dilakukan oleh AS dan Israel terhadap rakyat Iran dalam 37 hari terakhir, termasuk serangan mereka terhadap infrastruktur industri dan produksi, rumah sakit, sekolah, daerah permukiman, serta pusat dan fasilitas nuklir di Iran.
Dia mendesak semua pihak yang berpengaruh di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mengadopsi pendekatan yang bertanggung jawab dan berlandaskan hukum internasional.
Araghchi menyoroti pula tekad kuat rakyat dan angkatan bersenjata Iran untuk membela kepentingan nasional dan keamanan Iran dengan gigih, sekaligus memperingatkan konsekuensi agresi AS dan Israel terhadap stabilitas dan keamanan di kawasan dan dunia.
Dalam kesempatan itu, Lavrov menekankan perlunya menghentikan serangan ilegal terhadap target-target sipil, terutama Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Bushehr di Iran selatan, serta menyerukan agar setiap peluang dimanfaatkan untuk mencegah meluasnya cakupan konflik.
Terkait hal itu, Menlu India menyoroti pentingnya upaya untuk memulihkan stabilitas dan keamanan di kawasan, sekaligus menyatakan dukungan negaranya bagi upaya-upaya yang sedang berlangsung di tingkat regional dan internasional untuk menghentikan perang.
Kedua panggilan telepon itu dilakukan di tengah meningkatnya ketegangan regional pascaserangan gabungan AS-Israel terhadap Iran yang dimulai pada 28 Februari, yang dibalas oleh Iran dan sekutu regionalnya dengan menyerang berbagai kepentingan Israel dan AS di seluruh Timur Tengah.
Pewarta: Xinhua
Editor: Michael Teguh Adiputra Siahaan
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































