Menjaga peluang dan masa depan ekspor nasional

5 days ago 6
Di tengah perlambatan ekonomi global dan meningkatnya proteksionisme dari pihak eksternal, kinerja perdagangan internasional Indonesia sepanjang tahun 2025 tetap menunjukkan ketahanan yang solid

Jakarta (ANTARA) - Di tengah perlambatan ekonomi global dan meningkatnya proteksionisme dari pihak eksternal, kinerja perdagangan internasional Indonesia sepanjang tahun 2025 tetap menunjukkan ketahanan yang solid.

Total ekspor nasional mencapai sekitar 282,91 miliar dolar AS, sementara impor berada di kisaran 241,86 miliar dolar AS. Neraca perdagangan nasional mencatat surplus sebesar 41,05 miliar dolar AS, memperpanjang tren positif beberapa tahun terakhir dan menjadi bantalan penting bagi stabilitas makroekonomi nasional.

Dalam konteks bilateral, Amerika Serikat tetap menjadi mitra strategis. Ekspor Indonesia ke AS sepanjang 2025 tercatat sekitar 30,96 miliar dolar AS, sedangkan impor dari AS sebesar 12,85 miliar dolar AS.

Perdagangan internasional Indonesia membukukan surplus sekitar 18,11 miliar dolar terhadap AS, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini menunjukkan bahwa di tengah dinamika tarif dan tekanan kebijakan global, daya saing ekspor Indonesia ke pasar Amerika tetap terjaga.

Momentum inilah yang menjadi landasan penting bagi penandatanganan Agreement on Resiprokal Trade (ART) tahun 2026. Di mana Indonesia memasuki fase tersebut dengan fondasi perdagangan yang kuat, bukan dalam kondisi defisit atau tekanan struktural.

Hubungan perdagangan Indonesia–Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir tidak terlepas dari perubahan kebijakan tarif di bawah Presiden Donald Trump. Sejak tahun 2018 tepatnya, pendekatan America First mendorong penggunaan tarif sebagai instrumen strategis untuk mengurangi defisit perdagangan AS.

Produk baja, aluminium, dan beberapa komoditas manufaktur menjadi sasaran utama, sementara negara-negara mitra dagang diminta menyesuaikan struktur akses pasarnya.

Pada tahun 2025, wacana pengetatan tarif kembali mengemuka dalam lanskap politik Amerika Serikat. Indonesia menghadapi tekanan yang juga dirasakan oleh sejumlah negara berkembang lain dengan surplus perdagangan signifikan terhadap AS.

Dalam konteks ini, Indonesia memilih pendekatan diplomasi aktif dan negosiasi teknis untuk memastikan struktur tarif yang diberlakukan tetap kompetitif dan tidak menimbulkan disrupsi besar terhadap sektor padat karya maupun industri hilirisasi.

Di sisi domestik, penguatan daya saing terus dilakukan melalui efisiensi logistik, digitalisasi layanan perizinan, dan integrasi sistem kepabeanan. Dwelling time pelabuhan yang kini rata-rata 2–3 hari menjadi indikator perbaikan struktural yang signifikan dibanding satu dekade lalu. Transformasi ini memperkecil dampak negatif dari tekanan tarif eksternal.

Implementasi tarif

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |