Aceh Utara, Aceh (ANTARA) - Uroe got buleuen got, beumeutume pajoh leupek Mak peugot. “(Pada) hari baik bulan baik, setiap orang harus dapat makan gulai buatan ibu”.
Sebaris pitutur itu mengakar dalam diri masyarakat Aceh melalui tradisi meugang atau makmeugang. Sebaris pitutur itu pula yang dikenang oleh Imam Zamzami, seorang pengungsi asal Dusun Lhok Pungki, yang sudah nyaris tiga bulan menjalani harinya di tenda pengungsian.
Dusun Lhok Pungki dilibas habis oleh bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Desa Gunci, Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara, Aceh, pada November 2025. Suasana tepi sungai yang dahulu dipenuhi oleh rumah-rumah berbahan kayu, kini berubah menjadi tumpukan batang pohon dan bebatuan yang terseret arus.
Rumah Imam tidaklah mendapat pengecualian. Kediamannya turut hilang akibat terseret oleh arus banjir.
Sembari melindungi diri dari guyuran hujan di bawah tenda pengungsian Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Imam menceritakan kerinduannya akan tradisi meugang, sehari sebelum bulan Ramadhan pada tahun-tahun sebelumnya.
Menjelang Ramadhan, Imam terbiasa membeli daging sapi di pasar yang kemudian disulap menjadi masak merah oleh istrinya. Masak merah merupakan masakan khas Aceh Utara, saat menjalankan tradisi meugang.
Ciri khas dari masak merah adalah penggunaan rempah-rempah, seperti cabai kering, daun temurui atau daun kari, daun pandan, dan lain-lain.
Untuk anak-anaknya, terkadang dibuatkan porsi khusus atau ditambah kecap manis bila dirasa terlalu pedas.
Masak merah tersebut lantas disantap bersama keluarganya dalam suasana suka cita menyambut Ramadhan, tak terkecuali bersama ibu mertua.
Imam merindukannya; suasana meugang bersama keluarga dalam rangka menyambut kehangatan bulan baik, bulan yang penuh berkah.
Tradisi meugang
Kerinduan yang menjangkit Imam merupakan buah dari tradisi meugang yang ia jalani sejak berusia belia.
Tak mengherankan, sebab tradisi meugang dilaksanakan secara turun-temurun oleh masyarakat Aceh. Berbagai sumber menuliskan, tradisi meugang telah hadir pada zaman Kesultanan Aceh Darussalam, ketika Sultan Iskandar Muda memerintah.
Perayaan meugang merupakan wujud rasa syukur raja, sekaligus menyambut datangnya bulan Ramadhan. Dipotonglah lembu atau kerbau dan dibagi-bagikan dagingnya kepada rakyat.
Tradisi itu lestari, hingga saat ini, meski model pengadaan dagingnya mulai beragam.
Akademisi UIN Ar Raniry Banda Aceh Marzuki Abubakar, melalui penelitian yang bertajuk “Tradisi Meugang dalam Masyarakat Aceh”, menyampaikan setidaknya ada empat model yang dipraktikkan oleh masyarakat Aceh dalam mengadakan daging meugang.
Pertama, adalah meuripee atau masyarakat sepakat untuk mengumpulkan sejumlah uang dan membeli hewan sembelihan. Melalui metode ini, daging akan dibagikan, sesuai dengan jumlah orang yang ikut mengumpulkan uang.
Editor: Masuki M. Astro
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































